pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Minggu, 22 Mei 2011

Re-tittle :Everlasting

Namamu memang tidak pernah tertulis dalam buku-buku ku...
Ceritamu memang tidak pernah ada dalam kertas kerja ku...
Wajahmu memang tidak pernah tergambar dalam diktat-diktat ku...
Aku tak ingin membagi dirimu dengan siapapun, bahkan kepada secarik kertas yang jelas-jelas tak akan mungkin merebutmu dari ku...

Namun semua tentangmu ku simpan dalam hatiku...
Memenuhi seluruh ruangnya hingga tidak ada satu bagian yang tersisa...
Aku memang pelit, pelit untuk menceritakan tentang kamu kepada orang lain...
Aku cemas, cemas bila kehilangan hatimu yang telah lama ku tunggu...
Aku cemas, cemas pada kecemasanku..

Sayaaaang, kamu tau aku tak pandai menulis kata-kata puitis...
Kamu tau aku tak pandai mengungkapkan perasaanku di depan umum...
Tapi dalam diam, aku selalu memuji mu...
Diam-diam aku mencuri pandang menatapmu...
Dalam diam, aku berdoa untuk mu...
Diam-diam aku takut kehilanganmu...


Aku tahu, semua yang ku lakukan belum mampu membayar ketulusan hatimu...
Semua yang ku berikan belum mampu membalas kesabaranmu menghadapiku...
Tapi satu hal yang aku tahu, aku tak mau dan tak akan berhenti mencoba memberikan yang terbaik untukmu, untuk kita...


( salah satu tulisan favorit "The Second Note" 07 Mei 2011, sebuah catatan kecil milik seorang Kakak, Dias Esentika Ningtias , sederhana, jujur dan... tulus :) http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150239336700560 )

Twenty

20.
Mereka bilang sudah saatnya lah untuk tidak jadi anak beringus lagi, jadilah anak berdasi.
Mereka bilang sudah saatnya lah untuk tidak sekedar mendamba pelangi lagi, dambalah matahari.

Mereka bilang sudah saatnya lah membeli cermin yang banyak, agar bisa melihat banyak bayangan, tidak hanya bayangku sendiri.
lalu mereka bilang lagi, justru buang dan pecahkanlah cermin-cermin itu, agar bisa melihat dunia nyata yang sesungguhnya, bukan bayangan lagi.

entahlah, aku tidak tahu apa 20 itu sebenarnya.
yang aku tahu, ada banyak orang yang menyertakan kata sayangnya setelah namaku,

"nina..nina..met ulang tahun sayang" -bety
"happy b'day nina sayang"   -rici
"med hari lahir nina sayang"   -vani
"ninaaa, met ultah ya say"  -tia
"ninaaaaa sayang, met milad y"   -iik
"nina sayaaaang, hepi besdey yaa"  -desti
"selamet ulang tahun ya sayaaang" -deasy
"happy twenty nina, love you"  -eva
"ninay sayang, happy birthday yah"  -ecy

dan sayang-sayang lainnya yang tidak tertutur dan terukir, namun tetap terasa. Terimakasih banyak.
Mereka, saat raga mereka jauh pun, terimakasih telah memberikan sayang kalian.

jika ditanya, "bagaimana rasanya jadi kepala dua?"
aku akan menjawab, "bahagia".
karena di nafas pertama usia ini, ragaku berada di tengah-tengah mereka, mama, papa, kakak, ayuk, bahkan si kecil yang sangat aku sayang.
terimakasih Tuhan. terimakasih Allah.

"i wish for wonderful things to come in your day, i pray for the best for you, and just in you, beginning and ending of my love, Happy Birthday my beloved angel :)" -rjfs

Thank you.
18 Mei 2011

Jumat, 06 Mei 2011

Mereka Ternyata Sama

Pagi ini tenang.  Aku tidak merasakan sedikitpun kegundahan di pagi ini. Bahkan aku sempat tersenyum melihat matahari dan burung yang sudah lebih dulu tersenyum.
Aku menjalani rutinitas seperti biasanya. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan, pikirku. Tiba aku disana, tempat rutinku. Dan aku belum melihatnya hari ini.

Sudah menjelang siang, lamunku. Barulah aku mendengar kabar tentangnya. Ternyata dia sedang berpakaian serba hitam hari ini. Baju hitam, celana hitam, kacamata hitam, sepatu hitam, tas hitam, dan payung hitam.
Aku diam. Merenung.
Terbayang candanya dulu, terbayang tawanya dulu. Yang entah kapan terakhir aku merasakannya sebelum ini. Lupa.

Aku? Keterlaluan. Tapi aku memang harus tetap dalam kondisi aku yang ini. Tapi aku akan berdoa. Aku akan tetap berdoa bisa melihatnya hari ini saja, Tuhan.
Sekarang, saat aku sedang menggoreskan tinta hitam ini, sesekali aku memandangnya. Memandangnya dengan sungguh-sungguh, bukan pura-pura.
Taukah dia jika aku sekarang sedang menulis tentangnya?
Aku menempuh rute yang jauh untuk bisa melihatnya hari ini. Bahkan jalan uang kutempuh pun belum pernah ku lalui sebelumnya. Hanya untuk melihatnya saja, hanya ingin berada dibawah satu payung hitam dengannya. Hari ini saja.

Aku melihatnya, akhirnya.
Dari jauh hingga mendekat, hingga sangat dekat.
Kujabat tangannya, berbeda dari biasanya.
Tangan yang dingin, bukan seperti tangan yang hangat seperti yang kurasa selama ini.
Aku tidak tersenyum. Justru dialah yang menyambutku dengan senyuman.
Kulihat matanya, berbeda dari biasanya.
Mata yang sayu, mata yang lelah. Bukan seperti mata yang tajam dan kuat seperti yang aku lihat selama ini.
Aku melihatnya dari jauh sekarang. Namun aku tetap berusaha bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Kudengar suaranya, tetap lembut namun lantang. Yang sedikit berbeda adalah suaranya sedikit bergetar.
Tangan yang berbeda, mata yang berbeda, dan suara yang berbeda.
Oh mungkin, karena dia sedang berpakaian serba hitam hari ini.

Aku sedih tidak bisa berada di dekatnya. Tapi aku bersyukur.
Aku bersyukur aku bisa berada di dekat dengan sesuatu yang membuatku merasa seolah-olah aku berada persis di dekatnya, bahkan bisa sampai aku bisa merasakan menjadi bagian dari dirinya. Sangat dekat.
Dia, memang seperti dugaanku.
Dia baik. tidak hanya baik, tapi terbaik.
Dia menjunjung tinggi kaumku. Itu yang kudengar langsung dari seseorang yang selama ini mengisi tahta “dewi” nya.
Pertama kali aku melihat dewinya. Sama dengannya. Lembut.

Mereka sama.
Dia dan dewinya yang disini.
Lalu dewaku yang disana.
Sama dengannya. Sama dengan mereka. Mereka sama. Baik. tulus. Jujur.
Bahkan disaat semua sedang hitam begini. Baiknya, tulusnya, dan jujurnya, justru aura itulah yang membangga.
Aku mengerti sekarang. Aku mengerti aku sekarang.
Ternyata mereka sama. Dan aku merindukan mereka berdua.

Senin, 18 April 2011

Inilah Jakarta, bung!

Now listening, MLTR 25 MINUTES.
Denger lagu ini saya ingat jaman SD, zamannya udah ngerti pacaran tapi belom ngerti cinta-cintaan (apa bedanya? Haha).

Capek, diluar panas banget. Rumit.
Bahkan info yang saya dapat dari twitter, suhu Jakarta hari ini mencapai 40 derajat. Gila!
Ampuni hamba ya Allah, setengah jam ini saya mau mendinginkan badan dulu sebelum sholat ashar.

Saya semakin sadar, saya ini sudah menempuh enam semester kuliah, semester depan udah mau skripsi, semester ini semester nya magang.
Magang? Oh ya, itu dia. Kedengarannya agak lebay sih, tapi jujur mata kuliah ini cukup menyita pikiran saya.

Sebulan ini saya udah disibukkan sama peng-apply-an magang, di kampus bolak balik gedung F buat minta surat pengantar  magang, bolak balik stasiun juanda, bolak balik menkeu dan menlu, bolak balik depok Jakarta. Bolak balik naik kereta. Bukan mengeluh Tuhan, tapi hanya coba mengerti begini rasanya berjuang di Jakarta.
Salut. Hebat. Jakarta yang menurut saya adalah kota yang parah. Wajar aja kalo Jakarta dinobatkan jadi kota terburuk nomor empat di dunia. Tapi, orang-orang itu bisa bertahan hidup di Jakarta, bahkan saya pun mungkin calon generasi penerus mereka yang akan hidup di Jakarta nantinya (mungkin).

Mulai dari urusan makan dan cari duit sampai ke urusan makan dan cari duit lagi. mulai dari matahari mau terbit di hari ini sampai ke matahari mau terbit lagi esok harinya.

Pagi-pagi saya melangkahkan kaki ke stasiun UI, ke arah loket. “Pak, kereta ke Kota jam berapa pak?”
“kalo yang ekonomi datengnya bentar lagi, kalo ekonomi AC satu ½ jam lagi”
Saya menelan ludah. Menghela nafas. Baiklah naik ekonomi saja, daripada kesiangan.

“perhatikan satu dari jalur selatan satu rangkaian KRL ekonomi tujuan kota” suara dari pengeras suara petugas stasiun pertanda kereta datang.

Ya Tuhaaan, saya benci pemandangan itu. Udah kayak kepompong aja begantung-gantung begitu. Yang di dalam saya rasa udah siap jadi kerupuk manusia atau bisa dibilang manusia asin pengganti ikan asin.
Kereta ekonomi yang barusan tiba penuh dengan manusia didalamnya, sumpek.padat.stuck. ga bisa bergerak sepertinya.
Saking penuhnya, manusia yang lain sampai bergelantungan di pintu kereta, atau duduk di atas atap kereta. Udah bosan hidup kayaknya. Atau justru seperti itulah yang mereka namakan dengan bertahan hidup. Parah.


KRL Ekonomi Jabodetabek

Saya berubah pikiran untuk ikut naik. Baiklah, saya akan menunggu kereta ekonomi AC saja satu setengah jam lagi.
Tiket kereta ekonomi yang sudah saya genggam dari tadi saya buang. Saya kembali ke loket. Ekonomi AC Rp.5.500. Saya kembali berpikir apakah dengan harga tiket Rp.1.500 sesuai dengan kondisi yang kita dapat di kereta ekonomi.
Kereta ekonomi AC, lebih baik dari kereta ekonomi biasa. Lebih manusiawi menurut saya. walaupun di dalamnya tetap saja berdesakan dan lebih pantas disebut kereta ekonomi kipas angiin, bukan kereta ekonomi AC.
Saya memilih naik di gerbong terakhir, gerbong khusus wanita. Saya beruntung. Masih dapat tempat duduk.


Sekeliling saya, semuanya wanita. Karena memang gerbong khusus wanita. Setidaknya aroma yang saya cium di dalam gerbong ini lebih sejuk karena tidak ada aroma laki-laki.
Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang diam saja, termasuk saya.
Stasiun demi stasiun, penumpang semakin banyak. Dan semakin terdesak.

“penumpang yang terhormat, KRL sebentar lagi akan tiba di stasiun gambir, kepada penumpang yang akan turun harap bersiap-siap di dekat pintu kereta”

Wah, sudah sampai gambir. Satu stasiun lagi saya akan sampai.
Setelah gambir, adalah stasiun Djuanda. Stasiun tempat saya akan turun.

Oke. Saya sampai. Next destination : Gedung Kementerian Luar Negeri RI.
Abang bajaj jadi harapan.  Oke baiklah, ada dua jenis bajaj disini, bajaj nungging (menurut saya), yang satu lagi bajaj BBG. Bajaj nungging itu sepertinya bajaj jaman dulu, yang bentuknya nungging, dan saya udah kebayang berisik suaranya dan asap yang bakal dia keluarin, mungkin jika saya berada di dalam bajaj itu selama dua jam, bisa mati keracunan asapnya. Oke, kita naik bajaj BBG, lebih elit dan lebih tenteram. Harga sama saja.

Kementerian Luar Negeri RI. 


Gedungnya membuat saya kagum, masuk ke gedungnya, melihat orang-orang yang kerja disini membuat saya mupeng, muka-muka pegawai nya yang tenang dan bersih, menandakan mereka semua hidup dengan makmur dan tenteram, walaupun sebenarnya ada beban kerja yang mereka tanggung. Sesekali saya melihat muka-muka bule.  Setelah dioper sana-sini, berkas magang saya akhirnya diterima dan hasilnya masih dua minggu lalu. Ya ampun, pengen banget bisa jadi bagian Kemenlu RI.

Next destination : Kementerian Keuangan RI. By sikil (jalan kaki).


Gedung Kementerian ini lebih mengagumkan lagi. keren banget.
Semakin tergiur. Muka-muka orang yang ada di dalam gedung ini serupa dengan yang ada di Kemenlu, tenang dan bersih-bersih semua. Namun, yang disini lebih terlihat lebih ramah dari yang ada di Kemenlu.
Berkas udah saya masukin juga. Hasilnya minggu depan juga. Baik. tinggal berdoa. Semoga diterima.

Next destination: Kementerian Dalam Negeri RI. By bajaj again.
Oh Tidak, mulai dari satpam, sampai orang-orang ke dalam. Sangat jauh berbeda dari menkeu dan menlu. Orang-orang disini seperti tidak menghargai diri mereka sendiri. Gedung yang biasa saja, ditambah lagi dengan aroma rokok, aroma tidak enak(maaf: bangkai dan ikan) seperti pasar. Sejauh mata memandang, pegawai yang tersorot oleh mata saya hanya duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol sambil terus mengisap rokok di tangan mereka. Ada yang teriak-teriak, ada yang benerin atap dengan berseragam. Pelayanan yang saya dapat pun tidak sesegan dan sehormat ketika saya ada Kementerian sebelumnya. Saya seperti bola, dioper-oper oleh pemainnya, trus pas udah mau nyampe gawang, saya ditendang ke luar lapangan. 

Saya sedih. Miris. Instansi penyelenggara negara ini sangat memalukan. Saya pikir ini adalah secuil dari kegagalan pemerintah negara saya tercinta ini. Oke. Instansi ini saya blacklist.

Hari sudah sore. Saya berjalan ke stasiun Djuanda, bersiap menunggu kereta ke Depok. Waktu menunjukkan pukul 16.00, dan ini bertepatan dengan jam pulang kerja. Saya harus siap mental lagi.
Saya menyusuri tepi jalan menuju stasiun tersebut, sebuah busway melintas, pemandangan itu lagi. penumpang menumpuk di dalamnya.

Stasiun Djuanda. Sore hari.
Orang-orang berlarian ke loket agar jangan sampai ketinggalan kereta.
Mereka yang berlari itu berparas usia paruh baya, tidak lagi muda seperti saya. dengan usia segitu, pulang kerja pun harus mereka lalui dengan berlari-lari. 

Kereta saya datang pukul 17.33, itu artinya saya harus menunggu satu setengah jam lagi.
Saya duduk di peron. Memperhatikan kereta dan orang yang lalu lalang.
Muka mereka semua lusuh, lelah, termasuk saya.
Lelah dengan beban di kantor, belum lagi jika di rumah masih banyak urusan. Perjalanan pulang pergi kerja seperti ini yang mereka lalui, apabila mereka masih dapat bahagia, saya salut.

Kereta saya datang. Seperti biasa, saya pilih gerbong khusus wanita.
Kereta sudah penuh, kali ini saya harus berdiri. Oke baiklah, berdiri sampai Depok.
Pemandangan kali ini, banyak orang yang tertidur, dalam keadaan berdiri sekalipun. Oh Tuhan, mereka pasti sangat lelah.


Semakin lama kereta semakin sumpek. Setengah tujuh malam saya sampai stasiun pondok Cina.

Saya semakin berpikir, jika saya sudah kerja nanti, dan dapat rezeki di Jakarta, apakah model hidup seperti ini juga yang akan saya alami nanti. 

Dulu, sebelum saya berangkat kuliah ke Jakarta, bibi saya menitip pesan “kamu hati-hati di Jakarta,  Jakarta itu kejam, individualis”.

Depok-Jakarta April 2011.

Artis Instan (tanpa bahan pengawet)

Polisi.

Kalo denger kata itu saya jadi inget papa, jadi inget kak epol.
Tapi, belakangan ini bukan mereka berdua yang saya inget, saya jadi inget india, saya jadi inget joged.

Ya, polisi berjoget, tapi bukan papa atau kak epol yang saya bayangin lagi joged, haha.
Itu briptu norman. Ya, blog saya ga mau kalah pamor sama TV dong, yang setiap detik menit selalu nebengin muka si norman.
Briptu norman, pangkatnya sama kayak pangkat kak epol.
Sumpah, india abis.

“chaiya chaiya chaiya” tentu aja disertain sama joged goyang kepala dan bahunya itu, sama goyang yang menurut saya adalah goyang mukulin kayu ke tanah”.
Kalo kata temen saya, jogednya briptu norman itu adalah kombinasi dari joged india dan senam komandi polisi (bener juga ya..)

Haha, selamat ya briptu norman sekarang udah jadi artis instan jebolan youtobe.
Pesen saya cuma satu bang, kalo ada penjahat ditangkep ya, jangan diajak jogged india ya..haha.

Kondangan

Minggu pagi.

Kosan udah heboh dari seminggu yang lalu karena ada undangan pernikahan yang datang dengan tulisan “Kepada: Full House”.

Wah, undangan pernikahan pertama yang dateng ke kita dengan nama begitu.

“waah, minggu depan kita kondangan bareeeng”
“aduh, gue pake baju apaa yaaa?”
“aduh, gue harus beli sepatu baru niih”
“eh, iya, gue udah lama ga dandan nihh”

Sayangnya saya ga bisa ikut kehebohan mereka. Mama saya datang jauh-jauh dari Palembang, trus akhir pekan saya harus hijrah ke Bandung buat nemenin mama jalan-jalan.
Tapi, tetap saja saya bisa ngebayangin kehebohan mereka di minggu pagi itu.
Yang nikah adalah Ade, temen kita pas di asrama dulu.

Akad nikah nya jam 8 pagi. Berhubung katanya doa pas akad nikah adalah doa yang akan dikabulkan, maka mereka sepakat buat hadir di akad nikah nya, walaupun bela-belain bangun pagi di hari libur gini.

Suasana kosan lagi carut marut. Kamar mandi cuma ada dua, dan yang satu kerannya lagi rusak, jadi mandinya harus ngantri, belom lagi yang piket harus ngebabu dulu, nyapu sana sini, ngepel sana sini, masak nasi dan lalala nya.

Saya bisa ngebayangin ribetnya mereka. Sayang sekali saya melewatkan momen itu.
Keribetan belum nyampe situ aja. Pagi-pagi udah dandan, trus pada saatnya pamer sandal high heel dong. Haha.

Cuma sayangnya, kenapa perginya harus naik angkot. Haha. Maklum buk, anak kosan belum punya supir pribadi buat nganterin kondangan rame-rame gini, jadi angkot adalah satu-satunya pilihan yang tepat.
Lokasi pernikahan di Jakarta yang notabene lumayan jauh dari Depok, dan ga tau rumahnya dimana, jadi anak kosan cuma ngandelin janur kuning di setiap pinggir jalan sambil ngeliatin nama yang nempel di janur kuning itu : Ade dan Rauf.

“eh, itu ada janur kuning tuh”
“bang, pelanin angkotnya bang, mau liat namanya bang!”
“eh, bukan, itu nana dan rudi”
“jalan lagi bang, bukan disini tempatnya”
“eh, ada janur lagi tuh bang, pelanin lagi bang”
“eh bukan lagi bang, yang ini rini sama doni”
Haha, saya rasa itu supir angkot sejak saat itu resmi jadi supir pribadi mereka, serasa angkot pribadi.
“eh, itu tuh, janur lagi, pelan-pelan bang!”
“eh, iya bener! Stop bang!”
Akhirnya nyampe juga.

Akad nikah segera dimulai.
Ade kelihatan cantik dengan kebaya yang dia pake, calon suaminya juga kelihatan gagah.
Ade resmi menjadi istri nya Rauf.
Selamat ya Ade, semoga hidup yang baru dtempuh bersama suami bisa mawaddah warohmah.

NB: kapan ya saya nyusul? Haha…

Intinya : Mimpilah!

Kamis. UTS mata kuliah hukum administrasi negara.

Hari ini jadwal UTS terakhir semester ini, tapi anak-anak kelas sepertinya gak bahagia, setidaknya itu yang saya rasakan. Tugas takehome mata kuliah horror masih belum tuntas. Seperti biasa, setelah keluar kelas, semua orang pada rame ngebahas soal ujian tadi, saya udah gak bersemangat, apapun yang akan terjadi, terjadilah, pikir saya. Yang jelas tangan saya udah pegal dari tadi nulis analisis ga berenti-berenti.
Saya ngeliat muka geng saya, hebringers, udah pada bĂȘte.

Seperti biasa, kelar ujian, sepertinya otak sama perut udah carut marut ya buuk, udah waktunya buat di charge. Ayo kita makaan.
Hari ini kita jadi mahasiswa rajin. Kelar makan kita memutuskan untuk ke perpus pusat kampus. Cari buku buat ujian takehome mata kuliah horror itu. Perpus nya agak jauh dari kampus fakultas, dan bukan jalur bikun, jadi mau ga mau harus jalan. Abis makan, matahari terik, langsung dibawa jalan, saya rasa nyampe perpus pusat perut udah laper lagi. haha.

Nyampe perpus pusat. Saya dan hebringers, ups, sepertinya anggota hebringers harus dikenalin satu persatu. Ada saya, dea, afrin, feby, taya, sama inas.
Perpus pusat UI yang ini berlantai empat. Namun mei tahun ini, perpus nya bakal punya gedung baru yang sekarang bangunannya udah slesai. Perpus yang baru berlantai delapan, yang katanya perpus terbesar se-Asia Tenggara (katanya lhoo..)


Perpustakaan Pusat lama


 perpustakaan baru 

Ada kejadian memalukan. Jadi gini, dari kita berenam, cuma saya yang rajin ke perpus ini dan Cuma saya yang udah daftar jadi anggota (haha, pamer) tapi bener lhoo, apalagi jaman semester awal dulu, saya rajin banget ke perpus pusat kampus nyari buku referensi buat tugas, walaupun ada perpus fakultas.

Dan kelima teman saya yang lain, dua orang belum pernah sama sekali ke perpus ini, sisanya pernah dateng ke perpus ini, tapi belum pernah minjem buku. (haha sama aja). So, berhubung cuma saya yang agak rajin ke perpus ini, maka sayalah yang dijadikan tourguide nya. Mereka berlima bahkan belum punya kartu anggota perpus nya. (menurut saya ini parah, udah tiga tahun kuliah di kampus ini, belum terdaftar jadi anggota perpus nya, red: jangan ditiru ya teman2)

Masuk. Lobby lantai satu. Dea nyeletuk “waah, gini ya bentuk perpusnya?”
haha, saya berasa lagi nganterin anak-anak SMA yang lagi kunjungan ke kampus.
Lantai dua. Lobby pendaftaran keanggotaan.
Saya lah yang ditunjuk untuk ngomong ke ibu-ibunya, buat nanya petunjuk pendaftaran.
Saya udah siap-siap nyali nih, biasanya ibu-ibu petugas perpus itu galak-galak.
“selamat siang, Bu, bu saya mau tanya kalo mau jadi anggota gimana ya bu?”
“kampus sini apa kampus lain?” ibunya jutek. Bener kan pikir saya, ibunya jutek.
“kampus sini bu”
“angkatan berapa?”
Wah, firasat saya ga enak nih, “angkatan 2008 bu”
“waaah, angkatan 2008 hari giiiniii baru mau daftar jadi anggota ????? kemana aja kamuuu?”
Waduh, saya shocked. Ibunya bilang tepat banget depan muak saya dengan nada yang lumayan kencang. Oke tenang. Saya gak terima dibilang gitu, haha, langsung aja saya bilang, “bukan saya bu, tapi teman-teman saya yang mau daftar bu”
Aduuh, maluu. saya sempat liat ada beberapa anak yang noleh ke kita pas ibunya bilang gitu tadi.
Dalam hati, saya nahan ketawa.
Oke, urusan daftar mendaftar selesai.

Temen-temen yang lain lagi asik nyari buku, berhubung saya udah nyari buku dari beberapa hari yang lalu (haha, pamer lagi ) jadi saya jobless nih (kan ceritanya lagi jadi tourguide perpus). Saya putuskan buat cari novel aja lah, sambil nungguin mereka nyari buku.
Sekarang ada dua novel di tangan saya. Cari bangku yang nyaman, pasang headset, mari kita baca.

Judulnya Detik-detik berlalu karya Norsiah M.S tahun 1994 ( ini novel terbit pas saya umur tiga tahun dong), bahasanya jadul dan syair banget, tadi nya kan saya mau sok puitis nyari novel yang berbahasa puitis, eh makin saya buka halaman demi halaman, makin lama makin ga ngerti. Yah, bukan salah saya dong kalo saya ditakdirkan hidup di jaman sekarang, dan bego sama bahasa2 jaman dulu. Satu-satunya kesalahan saya adalah kenapa saya milih buku itu buat dibaca.
Wah, ternyata novel terjemahan Brunei Darussalam saudara-saudara (pantes saya ga ngerti).
Setidaknya saya ga jadi ngerasa kayak orang bego, karena saya bisa tutup novel ini, dan beralih ke novel yang kedua.

Kali ini judul novelnya Surat Kepada Tuhan karya Memoar Sobron aidit tahun 2003 (jaman saya SMP nih)
Yang ini lumayan meaning karena menceritakan tentang kehidupan anak negeri asal Belitung yang kemudian hijrah ke Paris buat sekolah dan hidup disana. Entah kenapa saya jadi inget novel tetralogi lokal yang separuhnya udah di filmkan. Novel dan film Indonesia yang fenomenal, bertema sama, dan kampung halamannya pun sama.

Ah, saya jadi inget cita-cita saya atau mungkin bisa dibilang khayalan tingkat tinggi saya. Bisa sekolah S2 di Munchen atau Paris. Ga salah kan saya berkhayal gitu. Toh, mimpi saya sama kayak mimpi-mimpi mereka yang kisahnya ada di novel-novel itu. Cerita-cerita mereka semakin membuat saya bersemangat kalo suatu saat saya diberi kesempatan untuk belajar di luar negeri. Yah, orang-orang banyak yang bilang hidup itu harus realistis, tapi apa salahnya kita bisa bermimpi. 

Seperti kata pak guru dalam film Sang Pemimpi, “Jangan lihat seberapa besarnya mimpimu, tapi lihatlah seberapa besar dirimu untuk mimpimu itu”
Seperti kata Agnes Monica di timeline twitter nya, “Semua itu berawal dari kita berani bermimpi, jika bermimpi pun kamu sudah takut, bagaimana bisa menggapai mimpimu itu, jadi janganlah pernah takut untuk bermimpi”.

Perpustakaan pusat kampus UI Depok , 24 Maret 2011