pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Rabu, 11 Mei 2016

Berdua


Diiringi musik Sunda-Sundaan
Si kecil berdiri di ujung jembatan
Tangannya tersimpan ke belakang
Badannya bergoyang ke kiri dan kanan
Kamu ngapain, tanyaku
Menungguku, jawabnya
Lalu kami berkendara bersama.

Tips Dicintai


Biar dicintai, ikuti semua maunya.
 Jangan punya mau sendiri.
Terserah dia makan apa.
Terserah dia mau ke mana.
Terserah dia mau apa.
Sampai kamu ngantuk dan besok bangun subuh, tetaplah bilang terserah dia.

"Pulang aja deh," katanya setelah mukamu tetap kusut walaupun mulutmu berkata mau.
Biar dicintai, tetaplah mulutmu berkata jujur.
Kalau dia pergi, dia memang tak pernah di sini. Kalau dia kembali, dia memang selalu di sini.

Matahari Sabit


“besok kita bangun pagi ya, biar bisa lihat gerhana.”
Yang satu nawarin mau naik bukit biar bisa gerhananya lebih jelas.
Tapi harus bangun lebih pagi, gerhana mulai jam 7 pagi.
Jalan jalan aja lha. Ga usah naik bukit.

Parkir di halaman kantor orang.
Melihat aki dan nini lagi yoga-yogaan gitu lah.
Menyebrangi jembatan unyu2 ala taman jepang.
Tamannya bagus, estetikanya jalan. Iya lah, lulusan arsitektur masa ga kreatif.

Dari kursi taman, gue melihat ke atas, silau.
Harusnya bawa kertas ronsen nih.
sebuah matahari sabit bersinar membuat pagi ini terasa sore.
"Di sini mah gak akan total."
Matahari sabit tetap mempesona.

"Ini cuma seratus tahun sekali ya?" tanya Papa.
"Nggak, Pa. 33 tahun sekali."
Pertama kali terjadi tahun 1983, ketika gue masih di antah berantah. Papa dan Mama baru aja nikah.
Berikutnya tahun 2049. gue 58 tahun Yang disana 68 tahun.
Masih hidup ga yah?

Pinggir jalan balai kota, 09 Maret 2016.


A lot of Friends


Sebuah foto muncul di Facebook gue. Dari empat tahun yang lalu.

"Mau dipost di timeline gak?" tanya algoritma Facebook. 
Tentunya dalam Bahasa Inggris yang sopan.

Foto gue dan dia tertawa bahagia. 
Four years ago, I had a lot of friends.

Kalau gue bisa mengulang waktu, apakah gue akan memilih tetap menjadi si  lugu ceria  yang punya banyak teman? Atau tetap menjadi gue yang sekarang?

Gak lugu, gak ceria, gak punya banyak teman.

"Do you want to share your memory?"

Cancel.

Punya banyak teman is overrated.


Those who stay are priceless.

Riset Bahagia


Harvard bikin riset tentang apa yang bikin kita bahagia. 
Subject-nya enam ratusan orang dari berbagai latar belakang. 
Diikutin selama tujuh puluh lima tahun.

Gak gampang bikin riset selama itu karena perisetnya gonta ganti. 
Banyak yang udah mati. Dia ketua riset yang ke empat. 
Subjectnya pun dari enam ratusan yang bertahan tinggal enam puluhan. 
Ada yang mati. Ada yang malas ikutan lagi.

Waktu muda, sebagian menjawab yang bikin bahagia itu kekayaan. 
Sebagian lagi terkenal. Fame and fortune.

Lalu waktu berlalu. Ada yang sukses. Ada yang mati muda. 
Bahkan ada yang jadi presiden Amerika. 

Kini mereka menjawab yang bikin bahagia itu good relationships.

Good relationships dengan orang-orang terdekat membuat umur lebih panjang dan penyakit yang sama jadi terasa tidak terlalu membuat menderita. 
Lebih baik cerai daripada bertahan di perkawinan yang merusak jiwa.

Gue masih muda. Setelah mendengar ini, gue tetap ingin mengejar fame and fortune. Kan lebih enak bilang 'fame and fortune' gak penting kalau kita punya  'fame and fortune'.

Kalau kupikir-pikir... gak perlu nunggu tua dan riset ratusan juta buat tahu apa yang  bikin bahagia.
Baru 24 pun aku, kalau mau jujur aku melihat ke belakang, memang aku paling bahagia ketika berada di antara orang-orang yang saling mendukung.

"Relationship is a mess. You need to put effort and time to it."

Sayangnya hidup kita hanya 24 jam sehari. Those time and effort gak bisa dibagi buat semuanya.

Bisa lah.