pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Jumat, 10 Agustus 2012

No Twitter, No cries?

"pengen deh, hidup tanpa twitter, hidup tanpa tahu hidup orang lain.”

Ga sengaja melihat tweet ini di timeline, 
tweet dari orang yang ga saya kenal, tapi karena di retweet sama temen akhirnya bisa dilihat sama orang lain.

Well, itulah dunia sosial di dunia maya. 
Twitter adalah jejaring yang paling rumpi dan paling update bahkan dari media yang paling update manapun diseluruh dunia.

Bermodal benda kecil yang bisa kita bawa kemana-mana, handphone, 
asal punya akses internet yang jago, mau selama sebulan,dua bulan, tiga bulan, atau selama apapun itu kerjaan kita cuma duduk manis di dalam rumah yang lokasinya ada di tengah hutan pun, 
ga akan ketinggalan cerita kejadian apapun di seluruh dunia, 
mulai dari berita yang memang penting sampai berita temen lo yang lagi kelaperan trus stress saking lapernya dia makan upilnya sendiri.
"duh laper nih, tapi ga ada makanan, ngupil aja deh, siapa tau lapernya ilang". Ini salah satu tweet terpenting yang bisa saja tanpa sadar kita baca hal2 yang serupa setiap hari di timeline.
Dunia maya, dengan berbagai wadah sosialnya. 

Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. 
Mengurungkan yang jadi, menjadikan yang urung. 
Membesarkan yang kecil, mengecilkan yang besar.
Menyedihkan yang senang, menyenangkan yang sedih. 
Mengongretkan yang abstrak, mengabstrakkan yang konkret. 
Menyuarakan yang diam, mendiamkan yang bersuara. 

Yang tidak tahu menjadi tahu,
yang tahu menjadi semakin tahu, 
yang tidak ingin diketahui, menjadi tahu dengan sendirinya.
Yang tidak tahu, memberitahu untuk diberitahu, 
yang sudah tahu akan terus memberi tahu, 
yang diberitahu akan memberi tahu bahwa tidak ingin diberitahu. 
Tidak ingin diberitahu padahal ingin tahu, Begitulah.

Twitter = (T)houghts (W)hich (I) (T)ype (T)hat (E)veryone (R)eads.

Pergerakan komunikasi dan teknologi yang semakin canggih dan luar biasa.

10 agustus. No twitter, no cries? we'll see later.

Insecurity.

Penyebab ke tiga perpisahan selain Facebook dan Twitter, ternyata: insecurity.

"Gimana gue mau ngajak dia nikah kalau dia kaya gitu?"

"Gimana gue gak cemburuan kalau dia gak ngajak-ngajak gue nikah juga?"

"Mungkin nanti gue balik lagi kalau gue dan dia udah lebih dewasa."

"Gue sayang ama dia. Tapi mungkin nanti saja, kalau kita lebih dewasa."

"Berduaan bukannya ngomongin visi ke depan, malah berantem terus."

"Ngapain diterusin kalau udah gak ada trust."

Andai saja... Andai... salah satu strong enough untuk menahan ego dan bilang, I will be with you no matter what... The other one will not be insecure. 
And they will live happily ever after.

Tinggal mencari cara gimana dealing with the Facebook and the Twitter.

Love is always worth it. Insecurity will leave you empty handed.

"Unless ada kesalahan ontologis: udah nikah atau ngajak pindah agama," katanya.

Then you are better off with her Facebook and Twitter.

I guess.

"hebat ya, lo kan laki, tapi jago masak gini".
"elo tuh ya, ga boleh nunjukkin kalo lo bisa masak, it's so gay you know!"
"menurut lo, lo yang suka fitnes gini, itu ga so gay?"
“kok potong rambutnya pendek banget sih? Kayak lesbi tahu!”
Sepenggal kalimat ini saya dengar dari film yang barusan saya tonton,film lokal jadul yg iseng saya tonton sebagai efek status "pengacara" saya.

Nonton film ini, saya jadi mikir, saya jadi pengen kuliah psikologi, jadi pengen kuliah sosiologi atau antropologi, jadi pengen kuliah filsafat, dan jadi pengen bikin penelitian tentang mereka yang punya orientasi homoseksualitas.

Kalo dipandang dari agama, urusan gampanglah ya buat nyari jawabannya, walaupun saya juga belum ngerti sih sama apa yang pengen saya tanya tentang mereka.

Urusan agama, at last di ajaran agama saya, islam, mereka adalah berdosa.

Tapi saya jadi mikir,mereka toh udah digariskan dengan jenis kelamin mereka masing-masing, laki-laki dan perempuan. Keduanya menurut saya sudah punya magnet tersendiri.

Emang mau nanya apa? Tanya kenapa mereka bisa jadi homoseksualitas? Lesbi or gay.

Secara logika, mungkin ga ya mereka bersyukur atas orientasi mereka itu? Atau itu justru pilihan? Atau justru karena ga ada pilihan makanya mereka bisa mencintai sesama mereka.

Film indonesia, cokelat stroberi, quicky express, the butterfly, atau film2 luar,black swan, close, all my children, detik terakhir, arisan, red lights.
Yang menampilkan bagian mereka yang "gay or lesbi", yang kadang-kadang memberikan sedikit indikasi faktor mereka jadi seperti itu.

Well, "why?". Pertanyaan penting ga ya buat mereka.
May be yes, or may be no.

Bukan berarti mereka ga normal kan? I mean, bukan berarti mereka cacat kan? Walaupun orang-orang di dalam dan diluar sana lebih gampang bilang kalo yang gini-gini ya ga normal namanya.

Seumur hidup sampai 21 tahun ini, dulu saya ga ngerti sama apa itu "gay, lesbi", yang saya tahu cowok ya sukanya sama cewek,cewek ya sukanya sama cowok.
Sampai SMA pun saya ga pernah percaya sama gay or lesbian, saya pikir mereka hanya berimajinasi.

Sampai pada kenyataan, ya emang nyatanya begitu. 
Mereka ada. Dekat. Sangat dekat malah.

Dulu, saya pikir, gay berarti mereka laki-laki yang kewanita-wanitaan, dan yang lesbi adalah mereka wanita yang kelaki-lakian. 

Jadi, sampai sekarang, berdasarkan pengamatan, pengalaman mengenal seorang yang gay dan lesbi, semua itu ga terbukti. 

Kemarin, saya liat tweet siapa ya di twitter (lupa), yang bunyinya begini: "85 % wanita menyukai laki-laki yang berbadan kekar, tetapi 90% laki-laki yang berbadan kekar tidak menyukai wanita."

Dan juga biasanya di film-film yang ga sengaja saya tonton dan ternyata ada lesbi-lesbi dan gay-gay nya, perempuan yang anggun, cantik, but who knows they never love a man!

Secara pribadi, saya pernah bertemu mereka. Gay dan lesbi. Dan pernah mendengarkan mereka.

Well, tanpa embel-embel teori, dan menurut persepsi saya, latar belakang dan riwayat hidup mereka lah yang perlahan-lahan mengeser mindset mereka tentang siapa itu laki-laki dan siapa itu perempuan beserta nilai-nilai yang mereka temui sendiri. 
(ngerti ga? Ngertiin aja lah yaa, hehe).

Ada yang bilang, kalo anak laki-laki bermain dengan segerombolan anak perempuan di masa kecilnya, maka diduga kelak dia akan punya orientasi seksual sesana jenisnya.
Ada yang bilang, kalo anak perempuan terlalu sering melihat orangtuanya berantem atau menemukan kenyataan kalau ternyata papanya berselingkuh dari mamanya, di duga dia kelak akan jadi seorang yang tidak suka terhadap laki-laki.

Mereka, yang saya temui sendiri dalam hidup saya.
Ada yang secara terang-terangan mengakui, ada yang tidak berani menegaskan, dan ada pula yang mengakui ketika ditanya.

Di lingkungan ini, lingkungan yang katanya tempat orang-orang menggantung mimpi, cita-cita dan harapan,
lingkungan yang katanya tempat orang-orang pintar, 
lingkungan yang katanya tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai suku, agama, ras, dan latar belakang yang berbeda.
Di lingkungan inilah saya menemukan mereka.

Mereka yang sepertinya tidak pernah mau ambil masalah dengan kondisi mereka demikian, asalkan mereka bisa hidup selayaknya dengan apa yang mereka mau dan mereka nyaman dengan itu. Dan tentu saja, dengan mimpi-mimpi yang mereka tentukan dengan cara mereka sendiri.


Malaikat Tanpa Sayap


Cinta itu bukan masalah memiliki, tapi berani untuk pergi, atau ditinggal pergi.

Bahkan embun ga butuh warna untuk bisa dicintai oleh daun.

Persetan dengan pengkotak-kotakan, sekat-sekat yang berdiri tegak diantara manusia, toh hidup ini dunia maya orang dewasa, kita pura-pura tua untuk ngelewatinnya, atau pura-pura jadi anak-anak buat menghindarinya.

Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pengotakan, pelabelan, dan saat label kita dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi.

Pena Cinta


Menulis.

kita ingin menulis, tapi kadang bingung dengan apa yang ingin ditulis. Karena ingin terlihat tidak seperti tulisan yang ga berguna.

Saya, ingin selalu menulis, dengan kata-kata yang ingin saya tulis, tidak berkonsep, tidak beraturan, mengalir saja.

Entah benar atau ga, menurut saya, melalui tulisan kita bisa kenal dengan diri kita lebih dekat, otak, hati, dan tangan jadi lebih sinkron secara jujur. Tulisan bisa jadi pengganti mulut yang lebih sering ga sinkron dengan otak dan hati.

Saya senang menulis, dengan cara saya sendiri tentunya. 
Yang kadang-kadang kebanyakan ga mengandung makna tertentu, setidaknya tiba-tiba justru sering menjadi jawaban atas apa yang kita mau sendiri.

Saya suka mempelajari seseorang melalui tulisan, mungkin tulisan lebih jujur, karena itu tadi, kadang-kadang mulut, hati, dan otak bekerja secara tidak sinkron.

"lebih banyak menulis, kita lebih banyak memahami diri sendiri" -Djenar Maesa Ayu
"Menulislah dengan jujur, maka kau akan mendapatkan bentuk yang paling indah". -Alberthiene Indah

Teng teng teng! Agustus!


Agustus ini! Ini agustus!

Januari, februari, maret, april, mei, juni, juli, dan

Agustus ini! Agustussss! 

Tinggal butuh berapa jari lagi buat menghitung yang tidak pantas dihitung ini.

Agustus ini, agustussss!

Senin, 16 Juli 2012

Old Part of RSMH



Foto ini diambil di salah satu ruang di Rumah Sakit Moch. Hoesin Palembang.
merupakan salah satu interior tua di rumah sakit yang masih ada sampai sekarang.
Juli 2012.

Minggu, 10 Juni 2012

One Day At A Time

Sorry is a word you need not speak

How can a single word say how much I feel

Love is a word I need not speak

But I tell you anyway

Cause I want you to know

What a beauty you hold

Don't say you love me

If you don't want to fear me

Don't say you love me

If you can't forgive

One day at a time is good enough for us

One day at a timeis good enough for us

One day at a time is good enough...

For us.