pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Sabtu, 06 April 2013

These people made me impress for the first time i met.

Meeting someone who has a same passion with me such like a writer finding publisher to promote his book. Such a good news.
When you are going to start talking to them, it will show that you were thingking about the same one, you have the same opinion, and being different in the same way together.
Just simple.

You're laughing each other for the things that didn't make others laugh.
You consider something odd when people consider it usual.
You are afraid to be wrong, when everybody are so proud to be wrong.
You don't really wanna money, when the other are so excited to money.
You are not a doctor wanna be, but the others are so doctor must be.
You're so excited each other when meeting up.

And with all passion that you have, you won't underestimate people who haven't the same.
And of course, when you think you don't need someone could understand,
but at least could appreciate it as part of beautiful difference.

Suatu tempat di keramaian, 2013.

Before i die, i wanna...

Before i die, i wanna teach, teach, and teach.

Before i die, i wanna get exotism of Thai-land.

Before i die, i wanna talk face to face with Dee.

Before i die, i wanna create a book.

Before i die, i wanna cry in front of the Holy Ka'bah.

Before i die, i wanna my parents see me marry a guy, with love.

Before i die, i wanna smell New York's wind.

Before i die, i wanna play with David and Dhira.

Before i die, i wanna being called "Mommy".

Before i die, i wanna take pictures in front of Eiffel tower.

Before i die, i wanna coming out.

Amen for that.

Dhira Khairunnisa

Kemunculan makhluk baru dalam keluarga tuh bisa bikin heboh satu rumah.
Bayangin aja, kalo biasanya di sekolah atau kampus ada anak baru, beritanya bisa aja saingan sama berita infotainment intens seminggu ini.
Apalagi dalam keluarga. You can imagine.

H-2 bulan,
"jenis kelaminnya apa?"
      "cewek".
"Oh, Alhamdulillah..., pas pasangan gitu"

H-1 bulan, "ciee David mau punya adeek, kira-kira ntar namanya siapa Kak?"
           "belum tau, abangnya kan namanya David Hamizan Putra, mungkin ntar adeknya dikasih nama Davina Hamizan Putri aja."
David versi ceweknya. Biar ga usah pake capek2 cari nama lagi ah.

Emang seribet itu ya nyariin nama buat makhluk baru ini?
Iya kali ya.

Sekarang mah enak, bisa searching nama-nama bagus di internet,
apalagi kalo orangtuanya eksis plus gaul.
Kalo dulu, sebagian orangtua kasih nama tanpa tau makna nama anaknya apa.

Contohnya gue.

Kalo orangtuanya tau makna nama anaknya apa,
setidaknya gue ga akan nemuin kalimat "orang yang bodoh" pas ngetik nama sendiri di translator english-indonesia.
Atau, ga akan tau kalo ternyata nama ini adalah nama perempuan Yahudi.
Satu-satunya yang salah disini pasti translatornya.

Kalo sekarang, rata-rata sih label nama udah punya makna masing-masing. Ya senggaknya ada bahan obrolan kalo lagi jenguk ibu-ibu muda yang abis lahiran.
Emang artis doang yang bisa nyebutin arti nama juniornya kalo lagi sok konferensi pers.

Hari H.
             "Selamat ya Kak, Yuk, atas lahirnya bidadari cantik ini"
            "Davinaaaa, cini cini Aunty ciuum"
"ga jadi pake nama Davina, Aunty."

"nama aku Dhira, Dhira Khairunnisa".

Duh, Aunty yang geblek.

Dhira Khairunnisa : Muslimah yang baik yang jujur, cerdas, dan bijaksana.

Welcome world dear baby!


Renungan Teduh Hujan

"Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta."  Soe Hok Gie
Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena menyerah,
tapi karena memang ada hal yang tidak ingin, tidak baik, tidak benar, dan tidak bisa dipaksakan.

Mungkin, tidak sesederhana yang dibayangkan saat tahu kita jatuh cinta pada seseorang yang  tidak seharusnya kita cinta.
Beberapa memilih menghindar, sebagian memilih hanya mencoba, yang parahnya lagi, sebagian hanya mempermainkan.

Mungkin sedari awal aku lah yang salah, terlalu serakah dalam kenikmatan yang membabi buta.
Aku datang dengan tidak tulus.
Memberi tapi seolah tidak ingin diberi itu bohong, karena nyatanya aku tidak semulia itu, aku ingin memperoleh kelayakan atau kepantasan yang membayar aku karena sudah memberi.
Terlihat kasar, memang.

Tapi setelah direnungkan, memang itulah kodrat sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai maha tidak sempurna.

Sedari enggan bertemu sampai selalu ingin bertemu.
Ribuan hari rayuan, jutaan sapa, dan tak terhingga rasa.
Hanya lembaran-lembaran hati yang dapat menyimpannya dengan jelas.

Sejenak ingin mencinta, tapi sulit.
Sejenak ingin membenci, namun kembali sulit.
Entah apa yang aku sebut "cinta" selama ini adalah benar cinta atau hanya ambisi pembenaran bertopeng cinta.

Aku bersatu, berusaha bersatu.
Untuk tidak membohongi diri bahkan menjujuri diri.

Aku terbatas. Kita terbatas.
Rasa ini tak perlu dibagi, karena tak terdefinisi sama sekali.

Aku melalui perjalanan panjang.
Sejak...tidak tahu kapan, dan sampai...tidak tahu kapan.

Sejak belum mengerti, sampai mencoba mengerti
atau sudah terlalu mengerti
atau ternyata masih belum mengerti sampai detik ini.

Sejak belum dekat,
sampai menjadi dekat,
atau sampai sudah terlalu dekat,
atau ternyata tidak mendekat hingga kini.

Sejak belum jauh,
sampai mencoba menjauh,
atau sampai sudah terlalu jauh,
atau ternyata memang belum jauh hingga detik ini.

Yang aku tahu ada jutaan hembusan nafas,
tak terhingga detakan jantung, dengan kerumunan rasa yang sangat sulit untuk dipaparkan.

Tak perlu disuruh menangis, aku sudah lama menangis.
Tak perlu disuruh bahagia, aku sudah lama bahagia.

Lalu apa masalahnya?
Banyak.

Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena sudah tidak peduli, justru karena teramat peduli, peduli untuk menjadi tulus, tulus untuk menjadi peduli.

Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena ingin menyakiti, namun karena justru ingin mengantarkan bahagia.
Bahagia untuk tidak terikat, bahagia yang tidak hanya untuk sementara.
Memutuskan untuk tidak bersama kadang-kadang bukan karena tidak mau, namun tidak sanggup.

Kita pikir kita siapa?
Datang, lalu pergi.
Pergi, lalu datang.
Datang tanpa gerangan.
Lalu pergi tanpa tujuan.

Sementara saya sama sekali tidak beranjak. Bak pengecut yang enggan buka tangan.
Ini tidak benar. Kita tidak benar.

Saya tidak menyesal, kini.
Begitupun nanti , saya kembali ingin menulis kalimat yang sama.

Suatu hari merenung, dibawah teduh hujan, 2013.

That's What I want

I want this too.
I want all of it.

I want the pointless bickering, the long walks, the late night phone calls, the goodmorning texts,
I want cute pictures with you,
To hold your hand, to make food for you, to call you baby.
The jocking, the wrestling, the fights, the long how i feel text messages after we make up.

I want to be one of those inseperable.
Best friend couples that people are like "you still together?"

That's what i want.

September 2012.

Pasti Berputar.

Hidup itu, memang seperti roda yang selalu berputar.

Saya percaya, setiap orang pasti memiliki siklus hidup ibarat cuaca yang tidak selalu hujan,
tidak selalu panas, dan akan ada hari dimana badai akan datang, atau justru kita akan menemui suatu hari yang begitu cerah.

Hidup itu adalah anugerah yang paling besar yang diberikan Tuhan kepada manusia,
untuk bisa bernafas dan merasakan pijakan di tanah Tuhan yang maha dahsyat ini, jangan melulu memikirkan kufur, yang kufur itu adalah ulah kita sendiri,
Tuhan menciptakan bumi ini begitu indah, lalu dengan lancangnya kita merusak.
Sepucuk bunga indah yang kita lihat dipinggir jalan. 
Jangan dikira dia tidak mengalami masa-masa sulit seperti menghirup debu-debu jalan, angin kencang, ada kala baru akan mekar, ternyata ada tangan jahil yang mereggut ia dari batangnya.

Seekor kupu-kupu indah yang kita lihat berterbangan.
Jangan dikira dia diciptakan langsung menjelma menjadi makhluk indah bersahabat bunga,
berawal dari telur yang berukuran sangat kecil bahkan tak terlihat,
perlahan berubah menjadi ulat, yang sekali diinjak bisa saja tewas,
membungkus diri menjadi kepompong yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya.

Sosoknya jelek, menjijikkan, dan mengganggu pemandangan.
 Lalu dari seonggok makhluk menjijikan lahirlah makhluk indah yang dicintai dunia, tak peduli rupa warnanya, hitam, merah, kuning, semua orang cinta padanya.
Iya, proses.

Kita bukan hidup di dunia jinny oh jinny yang sekali memejamkan mata bisa bertransformasi ke suatu tempat, atau menjelma menjadi seseorang berbeda.
Kita hidup di dunia fana. Dimana segalanya butuh airmata dan keringat.

Ayah saya pernah bilang, "untuk menghidangkan mie instan yang sudah bernama "instan" pun masih membutuhkan proses yang tidak selesai dalam waktu 1 detik."

Anak kecil harus jatuh dulu untuk bisa bangkit dan kembali berlari kencang lagi.
Pelari harus mundur beberapa langkah dulu untuk bisa mencapai jarak lari yang lebih jauh.
Pesepakbola harus mundur dulu untuk bisa menendang secerdik mungkin menembus gawang.
Busur panah harus ditarik mundur dulu untuk bisa melesat kencang mengenai target sasaran.
Layang-layang harus diulur jauh dulu untuk bisa terbang kokoh di langit.

Hidup berputar, kawan.
Tetaplah semangat, berjuanglah menjadi indah, pada waktuNya.

Sabtu, 30 Maret 2013

It's spring, babe.

Salju turun di kebunku selama 500 hari.

"Salju... Salju... Kamu mau ke mana?" tanyaku.

Salju ingin ke Eropa. Amerika. Salju ingin melihat dunia.

Aku ingin suatu hari mengajak salju mengunjungi dunia. Tapi Salju tidak ingin diajak, ia ingin terbang sendiri.

Aku ingin menemani salju mengejar mimpi. Amerika. Eropa. Sambil berpelukan tiap hari.

Tapi tidak hanya denganku salju berbagi mimpi.

Salju. Aku terlalu lama bermain-main di tengah indah putihnya, tak sadar tulang dan darah mulai membeku.

Salju memang indah dilihat, tapi hanya dari dalam. Lebih baik aku diam di rumah, menikmati secangkir coklat hangat dan air mata bersama keluarga dan teman, mereka yang benar-benar menyayangi si babi kecil dalam comberan.

Hari ini salju meleleh.

It's spring time, babe.

Kamis, 07 Maret 2013

It's a long..long..distance.

Those of you who have ever been in a long distance relationship know it isn't easy to have to drop them off and say goodbye for the time being.
Sometimes we don't know when we'll see them again, sometimes we do.

How do you feel when you realize that the day should coming?
The day that you must saying goodbye for a while, told him/her that you gonna miss them.

You hate it when you both talk about a thousand miles that separate all of you.
You hate it when your baby show the depart tickets, and then there will be a few second to know that is should be the two-three days later, or might be the last day.

The hardest part is when you take them away to the airport or station, you hope the plane was just going to leave them so.

And hey! Just wake up! The plane is still there. It's like you just left  nice dream.
And here!. It's time to take off.

And now you really really want the time stop run at all.
When both of you hugging, i know that you are same with me, it's like i never let him off.

It's like you feel okay with that, trust me! When the plane isn't seen anymore, and just realize there only one remain, you.

You can't help to not drop your tears. Have you? So that is the hardest part.

It is about when you left me alone at the airport.

just think so.

Kita harus percaya kalau semua orang sama. Ya perempuan, ya laki, ya orang kita, ya orang China, ya normal, ya homo. Semuanya sama. Patriotisme itu taik. Perang itu goblok. Media massa apalagi. Mereka cuma butuh uang. Nggak cuma disini, tapi diseluruh dunia. Mereka ga pernah lihat masalah yang sebenarnya. Cuma peduli sama kalimat sepotongnya artis-artis sinetron, musikus, politikus. Semua ini barang dagangan, man. Dengan lo nolak dikontrol institusi, lo ngambil kendali hidup ditangan lo sendiri. Itu yang namanya personal order. Itu dia yang namanya anarki. Dan, kita-kita harus hidup saling menghormati, saling percaya.

Lembar pertama Akar, -Dee.

Hari ini, kau dan aku.

Ruangan ini terasa dingin. Tampak embun bermetamorfosa menjadi bulir-bulir air yang jatuh di kaca jendela.
Masih terdengar sayup-sayup suara tumpahan air dari langit diluar.

Seperti biasa aku memposisikan diri disini. Ditempat yang jarang orang-orang pilih.
Tidak ada tempat yang senyaman ini, senyaman aku dapat memandangi orang-orang yang kenapa tidak memposisikan diri disini, karena ingin dipandang.

Tidak ada tempat yang sebebas ini, sebebas aku dapat merasakan bagaimana senangnya burung-burung diatas sana mengepakkan sayap.
Juga tidak luput senyaman dan sebebas aku, memandangimu.

Ketika pintu terbuka, ragamu lah asaku.
Seperti biasa, sorot matamu akan berkelana, kalau bisa kuharap lagi, berhentilah sejenak lebih lama disini.

Lalu jika benar, kau memilih berpaling, menetap di labuhan kenyamanan yang bukan ternyata bukan disini, didekatku.

Seolah tak ingin membuatku membencimu, kau ada disana, meski jauh namun harapan itu masih ada, setidaknya harapan untuk bisa memandangimu lebih lama hari ini.

Seolah hatimu bisa mendengar, celakanya kau bisa secara tiba-tiba memutar pandangan, buru-buru menemukanku,
Saat itu, bagian yang paling aku suka, jika mata kita ternyata saling bertemu,

hari ini, aku dapatkan senyum indah itu lagi.

H.405, kampus jingga, tiga tahun yang lalu.