pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Kamis, 06 Oktober 2011

"kuasaku sepertinya"

karya Emka yang selalu ku puja.
kau bacakan untukku.


"Apa yang kurindukan saat ini?
Menangis di sudut bibirmu. Lalu, membiarkan diriku meratapi kebahagiaan yang menjamu barisan hari, saat atau tidak bersamamu.
Hari itu, detik ini, dan —mungkin, nanti.
Sejauh kaki melangkah, tak surut membabibuta jejakku menilas ranah penyatuan perasaan dari keterpisahan —jarak juga kenyataan.

Memerdekakan diri sejenak, lalu bertekuk lutut di hatimu —lagi, satu-satunya.

Entah dimana, dan kapan masanya. Hanya itu, kuasaku sepertinya".


sudah.
tanpa kau biarkan aku bicara sepatahpun.
kemudian kau lantunkan.

"ku nafas di jiwamu, kau pantai di lautku, terpaut hati ini cinta yang suci

niatku sampai matimu
mencinta hanya dirimu
haus jiwaku padamu ku cinta

jodohku maunya ku dirimu, hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku.
jodohku maunya ku dirimu satu cinta hingga ajal memisah aku dan kamu satu saling mencinta."


Kamis, 22 September 2011

"Resmi Jadian"

Saya punya pacar baru.
Yes. Di tahun terakhir ini saya punya gandengan baru.
Ga dikenalin siapa-siapa sih. Tau-tau dia dateng sendiri ke hidup saya.
Dan catat! Saya ga pake jasa biro jodoh juga buat suatu keajaiban ini.
Dia anak kampus saya juga.
Sebelum sama saya, pacar sebelumnya banyak banget. Bahkan yang saya denger, waktu itu dia sanggup pacaran pake metode multisystem. Dua atau lebih yang dia pacari dalam satu rentang waktu pacaran.
Buat saya, itu ga penting.
Itu Cuma masa lalu.

Nama pacar saya “Skripsi”. Unik kan namanya.
Saya sayang sama dia.
Semoga dia juga sayang sama saya.
Yaa, paling ga, saya bisa pacaran sama saya 6 bulan ke depan.
Setelah itu, saya udah punya rencana untuk mutusin dia. Yaa, putus baik-baik tentunya.
Pacaran baik-baik, putus juga harus baik-baik ya.
Ngomong-ngomong, tadi saya dikenalin ke papa nya dia. Hmm, bolehlah sekarang dibilang “camer” dong.
Trus apalagi dong nyebutnya? Dimana-mana kalo orang pacaran, trus kalo ketemu sama orangtua pacarnya pasti bilangnya “ketemu camer”.
Ya, walaupun saya tahu persis ga akan nikah sama dia. Tadi saya ketemu sama “camer”
Aduh gimana nih, “camer” saya keren banget loooh.
“Drs. Lisman Manurung, M.Si, Ph.D”.
Pertama kali ketemu beliau sih sebenarnya pas saya udah masuk semester tiga, dua tahun yang lalu.
Pertama kali ketemu beliau,  kesan pertama yang ada di otak saya sih “mukanya kok mirip pacar saya sih?” (baca: pacar sebenarnya)
Sejak itu, setiap mata kuliah beliau, saat saya sudah sangat mencoba memperhatikan beliau dengan serius, eh ujung-ujungnya pasti yang terlintas di otak saya “hmm. Mukanya mirip banget sih, kayak anak sama bapak beneran, berarti muka pacar saya ntar tuanya anggaplah seperti muka beliau, hehe”
Saya bersyukur loh, kalo saya kangen sama pacar (baca: pacar sebenarnya), bisa ngeliat muka beliau, sedikit ngobatin rasa kangen lah. Heeee.

Ih, ini lucu banget menurut saya.
Semester ini saya nyatakan saya pacaran sama “skripsi”, dan ternyata dapet “camer” yang mukanya mirip banget sama pacar saya yang lain. Hahaha.
Baiklah. Doakan hubungan saya dengan pacar baru saya dan camer saya ini berjalan dengan baik ya.
Dan tahun depan nama saya resmi dapet gelar SIA. Amiiiin.



Selasa, 13 September 2011

SaveUI


Hari ini, hari pertama saya kuliah di semester tujuh. Semester dimana saya resmi menjadi mahasiswa tingkat Akhir.
Semoga Tuhan memang bersama mahasiswa tingkat akhir.
Hari pertama ini.
Kampus sedang “ramai”
di kelas pun, dosen membahas masalah yang sama.
Selesai kuliah, saya makan siang di kantin fisip (takor).
Begitu euphoria penggulingan sepertinya sekarang ya.

Semua meja makan di kantin bertuliskan “UI not for sale”.


Di salah satu fakultas yang saya lewatin, saya nemu spanduk “Save UI”.


semoga cepat selesai masalahnya ya.

Peraduan

Mereka.






Kepoers.
Terimakasih telah membuat peraduan pencarian ilmu ini menjadi tempat yang nyaman di hari-hariku.


Fullhouse.
Terimakasih telah membantu meleburkan tanah orang ini menjadi seperti tanahku sendiri.


Terimakasih atas keceriaannya.
Terimakasih atas suka duka nya.
Terimakasih atas persahabatannya.

Senin, 29 Agustus 2011

Lebaran kapan?

Seperti biasa, kalo saya udah cuap-cuap ga penting di blog ini di jam segini.
Aktivitas kalong saya dimulai lagi. belum ngantuk mamen.
Hari ini saya jadi perempuan lhoo. Alhamdulillah yah.
berhubung tadinya saya mau lebaran besok, jadi hari ini udah beres2 rumah dan bantuin mama masak.
Siap-siap mau packing buat mudik besok lusa.

Saya gak galau malam ini loh, Alhamdulillah lagi yah.
Tapi tapi tapi…
Saya udah sekeras tenaga ga mau galau,
Jreng jreng, saya buka TV, lebaran bukan besok mameeeeen.
Lebarannya jadi lusa.
Aaah, saya jadi galau lagi kan.
Tapi ini saya rasa seluruh Indonesia jadi galau.
Aaih, rendang, ketupat, opor, sambel ati yang udah siap disantap besok pagi terpaksa disimpen dulu.
Ih waw, baru kali ini pemerintah bisa segalau ini yah.


batu oh..

Emang ya,
sakit kalo punya hubungan tapi gak punya komitmen.
Kepala saya rasanya mau pecah, udah, sekali lagi orang datang buat nanyain komitmen, cepetan ambil batu trus pecahin kepala saya. saya siap.
Gak papa kok.
Kali ini postingannya emang edisi curhat.
Saya capek.

Kadang orang bilang sekeras-kerasnya batu pasti akan hancur jika selalu ditetesin air.
Pertanyaannya, berapa lama air itu harus jatuh agar batunya bisa hancur?
Seribu tahun? sejuta tahun?
Udah keburu mati saya.
Oh Tuhan.

Emas itu Milik Tuhan

"kau menemukan emas dipinggir jalan, kau pungut dan tak ingin kau bagi dengan siapapun”
"Kau simpan di bagian lemari yang paling dalam, kau terlalu khawatir seseorang dapat melihatnya dari luar dan akan mengambilnya”
“kau menjaga lemari siang malam, selalu membiarkan lemari tertutup rapat”
“hingga sudah tidak ada orang lagi yang kau temui, kau buka lemarinya”
“berharap bisa mengelus emas yang kau kira akan membuatmu kaya”
“kau menangis!”
“emasnya berkarat”
“hingga tak berharga lagi”

“sesuatu yang ia anggap Tuhan pun berani dia khianati, apalagi kau.”

Semua terjadi, yang kau takutkan.

Kau orang pertama yang aku beri tahu. 
Kau orang pertama yang selalu ku singgahi. 
Kau orang pertama tempatku menangis.
Kau orang pertama tempatku berbagi suka. 
Kau orang pertama yang slalu ingin kubuat tertawa. 
Kau orang pertama yang membuatku nyaman. 
Kau orang pertama yang membuatku percaya. 

Tapi, aku terabai. 
Terlalu memalukan untukku berbesar hati selama ini aku menganggap aku jugalah yang akan kau jadikan yang pertama.

Aku bukan orang pertama yang kau beri tahu. 
Aku bukan orang pertama yang kau singgahi.
Aku bukan orang pertama tempatmu menangis. 
Aku bukan orang pertama tempatmu berbagi suka. 
Aku bukan orang pertama yang ingin kau buat tertawa.
Aku bukan orang pertama yang membuatmu nyaman. 
Aku bukan orang pertama yang membuatmu percaya. 
Kau bilang “aku berhati-hati padamu” 
“aku tahu segala sesuatu tentangmu, apa yang membuatmu tak suka, maka itulah aku berhati-hati, aku tak mau kau benci padaku” 

Kau tahu aku sedih pada saat kau bilang itu? 
 Bukankah kau bilang fungsi kita adalah saling memberitahu jika masing dari kita berbuat salah? 

Aku tahu, meski selalu diam, kau lah yang paling mengertiku diantara mereka. 
Dulu. Kau pertama bagiku. Tapi dulu. Hanya sebatas dulu.

Kita telah berubah. Seperti yang kau takutkan. 

Karena terlalu kehati-hatianmu. Membuatku tidak nyaman dan tidak lagi percaya. Aku lelah mengharap untuk kau jadikan pertama. 

Karena aku belum setulus malaikat. 
Namun, kau tetap berharga. Mereka berharga. 
Dia pun juga masih berharga. Berinti kalian semua berharga. 

Aku sedih seperti ini. Aku sedih saat semua kabar gembira tentangku, kau lah orang pertama yang kuajak bersuka. Namun, setidak pantas itukah aku saat harus tahu semua kabar gembira tentangmu kudapati dari mulut orang lain? Bahkan dari mulut media yang omong kosong itu? 

Aku tidak mengerti kita. Hanya segelintir isi hatiku tentangmu.

Jumat, 19 Agustus 2011

MW

“besok ya, jam 6 malem pasti, aku nanti yang akan jemput, jangan khawatir” 
isi smsnya singkat.
Tidak banyak berpikir lagi, dia akan berangkat besok.
Dua jam perjalanan udara.
Pertama kalinya dia menginjak bandara ini.
Tak pernah dia berpikir untuk bisa jadi semudah ini, apalagi secepat ini.

“domestic departure”
Seseorang sudah menunggunya disana.
Seseorang yang tidak sekedar menunggu. Bertahun-tahun pun dia kira dia pasti akan bersedia jika disuruh tetap terus menunggu.

“senang melihatmu”
Dia disambut dengan senyum yang indah, bahkan yang paling indah.
“boleh peluk?” ucapnya.
Tanpa ada jawaban apapun, dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang satunya.
Aroma yang dia rasakan tetap sama.
Aroma yang selalu dirindukannya.

“kamu bawa jaket ga?”
“ga”
“ini, pakai jaketku”
Mereka masih canggung.
Tapi ubun dan otak mereka kompak mengisyaratkan sesuatu yang sama kepada hati mereka. bahagia. Mereka bahagia.

“tempatnya jauh, tidur juga ga papa”
“kamu suruh aku tidur setelah aku sampai sejauh ini?, kita kemana?”
“maunya?”
“kamu ga mau kasih kenangan ke aku di waktu pertama kalinya aku kesini?”
Pukul Sembilan malam. Jalanan masih ramai.
Mereka bersenda diatas angin, seolah-olah mencibir angin malam yang semakin dingin.

“makasih yaaa”
“makasih buat apa? Aku yang harusnya makasih”
“jadi malam ini cuma kita kan?”
“aaaah, makasih, makasih, makasiiiiiiiiih” teriaknya. Tetap tidak mau kalah dengan deru mesin dan angin malam.

Dia mengeratkan pelukannya malam itu.
Melaju kencang.
Malam semakin dingin.
Namun dia tetap hangat di dekapan pundaknya. Hangat. Hangat sekali.

Bukan untuk kemarin, bukan untuk esok, dan bukan untuk yang lain.

Tapi untuk saat ini, dan untuk mereka.


MW, Februari 2011

Kamis, 18 Agustus 2011

#17an

17
Bacanya sih tujuh belas, tapi saya gak suka sama angka 17.
Saya Sukanya sama angka 8, bacanya: delapan.
Baiklah gini aja, 1 (satu) + 7 (tujuh) = (sama dengan) 8 (delapan)
Yes. Bener kan.


17 agustus. Saya gak mau kalah pamor sama twitter dong, trending topicnya #17an, Indonesia ulang tahuuun. Selamet yah.
17 ramadhan. Saya juga gak mau gak dibilang alim juga, topic ceramahnya #nuzulul Quran, Al-Quran ulang tahun, Alhamdulillah yah.


#17an, timeline di twitter rata-rata sama, “dirgahayu Indonesiaku”, “Happy birthday Indonesia”
“Apakah Indonesia memang benar-benar sudah merdeka?”
“Indonesia sudah merdeka, iya, tapi merdeka setengah hati”


Huh. alangkah sibuknya saya jika saya ikut-ikutan mengolok Indonesia di ulang tahunnya ini.
menurut saya, dengan seenaknya mengungkapkan opini selancang itu pun sudah merupakan merdeka luar biasa loh.


Gak kebayang, kalo saya harus keluar rumah, siap siap mo ngedate sama pacar eh tau tau ada meriam mendarat di teras rumah. Atau bukannya kita bisa ngedate malah diseret sama tentara-tentara penjajah itu?
Eits, tunggu dulu, boro-boro ngayalin begituan, iya kalo masih bisa punya rumah, iya kalo masih bisa waktu buat mikirin pacar, eh..


Indonesia itu sudah merdeka. Hanya saja Indonesia belum beruntung untuk semerdeka Amerika Serikat.
Saya bisa leha-leha di siang hari ini, apa itu belum merdeka?
Saya bisa santai-santai di ruang yang sejuk sekarang, apa itu belum merdeka?

Indonesia sudah merdeka kok.