pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Sabtu, 12 Maret 2011

RemunTERASI

Ini malam minggu saudara-saudara, sudahlah saya sudah terima kenyataan sejak tiga tahun yang lalu saya kenampolan rezeki untuk kuliah dikampus saya tercinta ini, malam minggu saya tidak akan seindah yang saya pikirkan. Hari ini saya seharian berhadapan dengan laptop saya yang tercinta ini dengan setia menyelesaikan laporan dengan tema remunerasi, topik yang sebulan lalu menjadi trending topic di rumah saya, karena mama dengan hebringnya kalo papa dapet duit remunerasi dari instansinya. Dan malam ini, saya bertugas untuk menyeluk-beluki darimana asal muasal remunerasi tersebut.
Dan saya bosan, dan hasrat untuk menulis hal-hal yang tidak penting pun datang lagi. 

Malam ini, dengan sengaja saya mengintip site nya yuli, hhhm, ga update tulisannya, bahkan tulisan jaman jabot masih menjadi daftar tulisan terbaru, dan akhirnya pun saya bernostalgia.

http://yulielvina.multiply.com/journal/item/15/dan_Lorong_itu_pun_Sepi
“8 September 2008, semuanya berawal dari sini, setelah menghabiskan waktu seminggu untuk memindahkan barang-barang dari kostan lama, akhirnya kamar asrama yang sebelumnya sudah dibersihkan bisa di tempati. sebenarnya bisa pindah jauh hari sebelumnya, tapi kondisi saat itu tidak memungkinkan. setelah ditinggal daeng, kesepian merajai, semua serba dikerjakan sendiri, mulai dari tugas OKK( masih maba), tugas kuliah, dan barang- barang yang lumayan banyak, meskipun hanya berupa buku warisan daeng dan pakaian saja tapi akhirnya alhamdulillah pindah juga.

masih teringat hari pertama di asrama mati lampu dan kelaparan, rasa malas untuk ke kantin karena belum ada kenalan membuat ku bertahan di kamar dalam keadaan gelap, dan picok pun menyelamatkan ku, dengan lugu bertanya pada yang jualan "piscok itu apa??" "pisang cokelat ternyata" dan 2 piscok pun mengisi kelaparan ku.

selama dua hari tetap bertahan dikamar ini sendiri, masih canggung, dan kesibukan teman-teman yang lain membuat ku jarang bertemu mereka. sampai akhirnya, sesi kenalan pun dimulai. mereka ribut sekali dan akupun tertarik keluar, kenalan ahh,,,, depan kamar ku cewek anak FISIP, dihias manis dengan tai lalat di dagunya, "dari mana" " Lampung" jawabnya. "ohh yaaa??? aku juga". selanjutnya "ummi, FKM, dari Lampung juga". "weeewww,,,,"", "eva, FKM serang" klo yang ini uda kenal, alnya waktu rekomendasi minta asrama bareng eva jg. selanjutnya ada Nina dari Fisip, wong kita galo. mereka lalu bilang" wah,,, banyak dari Lampung yah,, yang lorong sebelah juga ada anak Lampung, Okta dan Novita.
seiring waktu berjalan mulai ku kenal satu-persatu nama mereka, walaupun sering lupa-lupa ingat klo ketemu di kamar mandi atau berpapasan, BAHKAN sampai sekarng pun ada saja yang masih sulit membedakan antara UMMI dan YULI!!!

hari-hari pun dilewati bersama, layaknya sebuah keluarga, makan bareng mandi bareng(beda bilik) hi hi hi,,, pokoknya asrama dibuat senyaman mungkin layak rumah sendiri. Sampai akhirnya ada penghuni gak jelas bukan penghuni B2 yang suka gabung,, maka suasana pun jadi semakin autis,,Rizka Indri Wulandari yang maunya di panggil I'ik yang lama-kelamaan di plesetkan oleh icha dan yuli menjadi E'ek. Icha?? siapa nihh??dia orang terakhir yang masuk ke asrama B2 kamarnya tepat disampingku, Tri Budi Novia Cahyani lengkapnya, anak Matek asli Blitar, sebelumnya kamar tempat icha di huni dian, anak Lampung juga tapi dia pindah sebelum kami mengenalnya dekat. lengkapnya penghuni lorong kami sekarang adalah Nina, Fitri, Timi, Tina, Bella, Meli, Ummi, Eva, Betty, Yuli, Yunika, Icha, Riza, dan Ajeng, dengan tambahan Okta, Novita, Siska, Shinta, Nadiya, Nea, Mephy, tujuh yang terakhir adalah anak-anak panti yang suka meramaikan kamar Betty. sebagai tambahan kami punya markas yaitu kamar Betty, yang senantiasa rapi trus diacak-acak, rapi lagi di acak-acak lagi, dan begitu seterusnya.

makan bareng, mandi bareng, nyuci bareng, ngegosip, karaokean, maen kartu,ga garudaan, chubby2 cha cha cha, ngambil galon, laundry, ke kantin, ke pasar kaget, makan2, ulang tahun, buka puasa bareng, sahur, shalat, manjat po'on mangga dan masih banyak lagi, yang membuat kebersamaan ini lebih berarti dengan adanya kalian.

masih ingatkah kalian tentang rencana kita 2018???

b2'ers, poni'ers, gokil'ers, gila'ers, stress'ers, kocak'ers, baik'ers, so swit'ers, dan anak Panti autis.
itu sebutan buat kita, ada yang kurang???

ku tahu setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi aku juga tahu bahwa kita tidak akan selamanya berpisah, kalian tetap di hati ku (lebay mode:on).

tidak berniat membuat notes ini sebenarnya, tapi aku menangis saat menulisnya, YULI SAYANG KALIAN SEMUA B2'ERS. LUV ALL”


saya rindu asrama. Saya rindu mendengar bunyi tokek dan jangkrik malam dari seberang jendela. Saya rindu memandangi burung dan tupai berkejaran di pohon seberang jendela. Saya rindu merenungi hujan di sore hari dari seberang jendela. Saya rindu matahari pagi kamar B2.34 itu.

Senin, 07 Maret 2011

Ya, saya memang AUTIS

Selamat siang. Semoga siang hari ini saya benar-benar selamat. 

Iya, saya sedang berada di pad notes  ini untuk mencurahkan apa yang ingin saya sampaikan, kepada siapa saja, siapa saja yang ingin membacanya, jika kalian berpikir ini tidak penting,  memang siapa yang bilang ini penting? silahkan tinggalkan tulisan ini sekarang juga.
Saya bukan siapa-siapa, bukan sosok yang cantik, pinter apalagi, kaya apalagi.
Saya dengan paras muka yang biasa-biasa saja, namun saya pernah merasa cantik ketika saya dicintai oleh seseorang.
Saya dengan level otak yang standar, namun saya pernah merasa “dianggap” saat nama pertama yang dipanggil saat pembagian raport adalah nama saya.
Saya dengan sosok yang tidak punya materi apa-apa, dengan sosok menadah, namun saya pernah merasa “ada” saat saya dengan ikhlas meletakkan koin bernilai minim itu ke wadah yang mereka taruh dengan penuh harap.
Saya, tentu bukannlah anda. Saya berbeda dengan anda. Saya berbeda dengan anda sebagian. Namun inilah saya dengan segala yang telah ditetapkan dalam kodrat saya.
Saya adalah seorang perempuan dengan usia 19 tahun. bulan mei tahun 2011 ini saya baru akan menginjak 20 tahun. Usia yang dianggap sebagian orang merupakan usia loncatan untuk menjadi dewasa. Usia yang dianggpa sebagian orang merupakan batasan usia untuk tidak menjadi anak kecil lagi.
Saya bukanlah tipe seorang gadis yang diidamankan banyak laki-laki.
Saya bukanlah tipe seorang yang bisa diharapkan bisa mengikuti tren masa kini.
Namun, saya pernah merasa sangat bersyukur di saat seseorang bersedia menerima saya dengan apa adanya. Tidak hanya itu, saya juga pernah merasa sangat tidak berguna ketika saya tidak bisa melakukan apa yang sebagian dari mereka lakukan, tapi saya juga tidak mau jadi orang yang super goblok karena mau melakukan apa yang tidak ingin saya lakukan.
Saya. Sekarang ini, sedang duduk di depan layar laptop, sembari menekan tombol-tombol huruf ini dengan cepat dan kuat.
Saya hanya mencoba memandang sekeliling saya. Siapa saya disini, apa yang saya lakukan disini, mengapa saya disini, bagaimana saya disini, kapan saya disini.
Saya tidak suka masak.
Saya tidak suka dandan.
Saya tidak suka belanja tas,sepatu maupun baju dan peralatan make-up.
Saya tidak suka ke salon.
Saya tidak suka berlama-lama di depan tv hanya untuk mengikuti cerita-cerita FTV itu.
Saya tidak suka sinema elektronik yang peran utamanya bernama amira atau fatiah itu.
Saya tidak suka menonton film India.
Saya tidak suka suasana yang terlalu teramat sangat berisik.
Saya tidak bisa mendengar terlalu banyak suara.
Saya bukan orang yang dengan intelek tinggi bisa mendengarkan beberapa orang yang berbicara sekaligus.
Saya bukan orang yang dengan konsentrasi tinggi mengerjakan sesuatu di tengah keramaian.
Saya anak manja. Bukan anak yang mandiri.
Saya anak cengeng. Bukan anak yang tegar.
Saya anak plinplan. Bukan anak yang tegas.
Saya hotter. Bukan cooler.
Saya adalah yang akan balas bersikap kasar jika dikasari.
Saya adalah yang akan balas membentak apabila dibentak.
Saya berpacaran dengan seorang katolik.
Itu saya.
Saya dengan berbagai “kesayaan” itu.
Salahkah saya?
Mana lagi kebahagiaan saya yang TIDAK bisa saya bagi dengan anda?
Ya, saya memang cukup pantas untuk dikategorikan kaum autis.
Ya, saya memang cukup pantas untuk dikategorikan kaum payah.



Minggu, 13 Februari 2011

Scares, Smiles, Prays :)


Selamat malam, jika saat ini saya memiliki senggang waktu untuk mengepost sesuatu ke dalam blog ini, maka itulah pertanda jika saat ini memang ingin saya untuk berbagi cerita apapun yang ingin saya ceritakan, di saat waktu ku memang sedang senggang.
Seminggu sudah saya lewati dunia perkuliahan  semester enam ini, sejauh ini baik-baik saja. Belum ada kendala dan kesulitan yang bisa saya kategorikan lebay. Entahlah, semester enam ini rasanya ingin dilalui dengan senang hati, agar semua bisa dilalui dengan hati yang suka cita. Tugas? Saya rasa itu biasa, malah sepertinya aneh jika dosen tidak memberi tugas (tapi tugasny jangan lebay ya Pak, Bu, hehe)

Blogger semuanya, entah kenapa seminggu ini saya takut, saya takut mati. Kabar kematian yang banyak saya dengar selama seminggu ini sungguh membuat saya takut. Saya juga tahu kalo seminggu yang lalu, dan full selama seminggu ini, seluruh infotainment di seluruh penjuru Indonesia non stop memberitakan berita duka kematian public figure itu yang secara mendadak, agak bosan sih sama beritanya yang selalu itu, tapi saya akui memang kabar itu sangat mengejutkan, ya saya yakin karena almarhum adalah sosok yang sangat bersahaja, sehingga semua orang menangisi kepergian nya. Saya takut, jika Tuhan sudah berkehendak, maka siapapun bisa mati detik ini juga, jika sudah sampai janji Tuhan, maka tidak ada satupun yang bisa mengingkarinya. Sakit atau sehat, tua atau muda, baik atau jahat, jika memang sudah waktunya, semua sudah usai.

Belum sempat berita kematian menghilang dari dunia pertelevisian, entah pada malam apa itu, saya bermimpi tentang kematian lagi, sahabat saya yang belum sempat saya temui liburan kemarin, saya mimpi dia meninggal.  Saya takut ya Tuhan, saya sangat menyesal, bangun dari tidur, saya berpeluh, saya ingat bowo. Saya segera kirim doa untuk bowo. Lagi-lagi saya ingat mati. Belum sempat saya lupa dengan bayang-bayang kematian itu (emang lebay sih bahasanya, tapi emang belakangan saya jadi membayangkan kematian, hehe), tanggal sembilan febuari yang lalu, saya mendengar kabar sesosok teman yang menghembuskan nafas terakhirnya pada hari itu, Fabil. Teman yang dulu sempat jadi teman kecil saya, teman bermain saya, teman yang cukup dekat walau Cuma sekitar tiga tahun. saya kaget, Fabil yang saya kenal sebagai sosok yang dingin, ternyata harus pergi dengan cepat.

Belum sempat berakhir saya melihat beranda saya di akun jejaring sosial itu yang menulis status turut berduka tentang kepergian sang teman itu, saya sudah diingatkan lagi dengan kematian, saya menonton film yang juga bercerita bagaiman bersiap menerima kenayataan bahwa hidup kita divonis tidak akan lama lagi. bagaimana rasanya menghadapi kematian itu? seberapa takutnya kita ketika melihat malaikat Izrail bersiap mencabut roh dari raga kita? Bagaimanan kita bisa siap untuk menyaksikan orang-orang yang kita sayangi menangisi kepergian kita? Ya Allah, hamba takut.
Saya ingat selalu pesan mama, “nina, selalu ingat sholat, nina harus selalu ingat mati, karena detik kapanpun juga, kita harus siap”.

Saya benar-benar takut, saya benar-benar membayangkan kapan saya mati, kapan dia mati, kapan mereka mati, saya harus siap, harus siap, hanya amal lah modal kita, hanya iman lah modal kita, Ya Allah saya takut.
Berita Adji Massaid yang meninggal secara mendadak, mimpi alez meninggal, cerita film tentang perjuangan Kate melawan sakitnya sampai pada saatnya ia meninggal, dan sampai pada kabar Fabil meninggal, membuat saya kembali sadar bahwa saya benar-benar kecil, benar-benar tak berarti di mata Tuhan, di mata Allah. Saya ingat dulu seorang mentor berkata kepada saya bahwa mati adalah bukan mati, tapi mati adalah lahir, dimana kehidupan yang sebenarnya baru akan dimulai. Kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sesudah mati. Ya Allah, tuntunlah Hamba untuk selalu senantiasa berada di jalan yang lurus dan benar ya Allah. Amin.

Kabar Fabil begitu mengagetkan saya. Saya tidak pernah ingat kapan terakhir saya berjumpa dengan Fabil, mungkin dulu SMP. Sepertinya setelah itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Hanya saja Fabil, bagaimanapun saya pernah dekat dengannya waktu kelas satu sampai kelas tiga sekolah dasar itu, hingga sesudahnya saya harus pindah sekolah. Mendadak saya mengenang bagaimana saya dulu sering bermain sepeda dengannya, mendadak saya mengenang bagaimana saya sering singgah dirumah neneknya yang dekat dengan rumahku pada waktu itu, rumah neneknya yang lumayan mewah menurut saya pada waktu itu sehingga membuat saya senang berlama-lama disana. Hingga pada saya pindah sekolah, sehingga masa-masa itu berlalu begitu saja. Hingga saya dan fabil bertemu lagi di SMP, namun sayang, masa-masa seperti waktu itu tidak berlaku lagi, saya dan fabil jauh, bahkan tidak selalu saling menyapa. Sampai SMA yang berbeda dan sampai hingga dia pergi saya tidak pernah lagi bertemu dengannya.

Saya ingat fabil, masa kita dulu, mungkin fabil lupa, tapi saya tidak pernah melupakannya, Fabil, Resha, Andika, Tony, Danil. Haha, bahkan saya ingat sekali bahwa saya adalah orang yang paling cantik diantara kalian.

Danil, saya ingat dulu dia selalu membagi kue natal nya untuk kami, dan selalu menunggu kami ketika pelajaran TPA dimulai, mengusili saya dengan kalajengking mininya, mengajak saya bermain sampai pada pohon beringin besar yang letaknya sangat jauh dari rumahku. Sosoknya yang lincah membuat saya tidak lupa dengannya. Saya dan danil, ternyata bersekolah di SMP yang sama, namun Danil hanya menyapa saya satu kali pada massa MOS SMP dulu, setelah itu, bisa dibilang tidak pernah saling menyapa lagi, bahkan ketika Danil menjadi ketua OSIS di SMP dulu, saya tidak member selamat kepadanya. Saya tidak tahu Danil meneruskan SMA dimana, dan sepertinya dia bekerja sekarang. Saya berterimakasih kepada jejaring sosial itu yang telah membuatku mengetahui kabar danil sekarang.

Resha, saya ingat dulu dia adalah sosok yang paling cerewet menurut saya, bahkan melebihi kecerewetan saya sebagai makhluk hawa. Mukanya yang imut dulu membuat saya juga tidak lupa dengan resha. Kebawelan dan kemanjaan nya membuat saya juga tidak lupa dengannya, resha juga yang dulu berlarian dengan saya sehingga saya jatuh terjerembab dan meninggalkan bekas luka di lutut yang sampai sekarang masih ada. Setelah pindah sekolah ketika kelas 4, saya tidak pernah bertemu lagi dengannya, kabar yang saya dapat ketika SMP adalah ternyata resha juga pindah seperti saya. Entah berapa lama saya harus menghabiskan waktu untuk mencari mencari akun jejaring sosial itu dengan nama “resha” yang notabene ada ribuan “resha” yang terdaftar, dan saya lupa nama lengkapnya. hanya dengan modal mukanya yang ingat waktu saya kecil dulu (yang saya yakin anda juga tahu bahwa muka kecil dulu akan sangat berbeda dengan muka yang sekarang). Namun, usaha saya tidak sia-sia, akun dengan nama “resha aditya pratama” berhasil saya temui, mukanya yang agak2 mirip dengan ingatan saya waktu kecil dulu membuat saya yakin bahwa itu resha, Ya Tuhan betapa begonya saya yang sok deket mencoba ngirim message ke dia. Dan ternyata benar! Dia resha yang saya cari, namun dia lupa dengan saya, sepertinya ingatan dia terhadap saya kurang kuat. Dia Cuma ingat dengan andika, bahkan sama yang lain juga lupa. Setidaknya, saya bisa tahu kabarnya sekarang, ternyata resha pindah ke Tangerang, dan sekarang dia di STAN.

Tony. Saya pun lupa siapa nama lengkapnya, Tony sepertinya sosok yang tidak terlalu banyak tingkah pada waktu itu. saya pun sempat mencari tony lewat situs jejaring sosial itu, namun sampai sekarang belum ketemu, ingatan saya tentang muka toni pun tidak terlalu kuat. manusia yang bernama Tony sangat bejibun! Ohhh…

Andika. Sosok yang satu ini sangat ingin saya tahu kabarnya sekarang. Sosok yang satu ini bisa dibilang cukup dekat denganku waktu itu. wah, entah bagaimana sosok saya dan sosoknya waktu kecil dulu, yang saya selalu ingat adalah, Andika selalu menjabat sebagai ketua kelas dari kelas satu sampai kelas tiga, dan saya selama kelas dua dan tiga duduk sebangku dengannya. Sosok Andika yang menurut saya adalah sosok anak yang benar-benar baik, sosok yang bersih, sosok yang rapi, sosok yang pendiem tapi cool, sosok yang ganteng (haha, bahkan dengan usia sekecil itu saya sudah mengidolakan sosok andika), sosok yang pintar, bahkan saya yang waktu itu Cuma mampu meraih peringkat 10, andika mampu meraih peringkat empat. Saya yang dulu pernah menangis karena jatuh berdarah ketika berlari dengan resha,  saya ingat Andika lah yang menenangkan saya, bahkan ketika buku latihan saya dulu ketinggalan, Andika Andika dengan senang hati memberikan buku kosong yang selalu dia bawa untuk cadangan, dia berikan untuk saya, saya juga ingat ketika Andika sempat mengalami kecelakaan sehingga kakinga pincang dan lecet di mukanya sehingga setiap hari dia selalu membawa obat dan di antar jemput oleh papanya, saya waktu itu turut sedih. Sosok pahlwan lah waktu itu (haha, bahkan umur saya masih 8 tahun waktu itu), sejak saya pindah sekolah, saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Yang saya dengar dari teman juga waktu di SMP, dia bilang kelas 5 Andika pindah ke Bandung. Ahh, saya tidak pernah menyangka ternyata Andika dan Resha ternyata pindah ke luar kota. dimana dia sekarang? Kali ini, saya ingat nama lengkapnya Andika Pratama, dan muka yang masih saya ingat jelas, namun ketika saya mencari nama lengkapnya di situs jejaring sosial itu, nama dengan “andika pratama” ada ribuan orang, oh God! Muka Andika yang saya kenal belum saya temukan di antara nama-nama tersebut. Andikaaaaa!!!!

Fabil, yang sudah mendahului kami semua, walaupun waktu dan kenangan saya bersama Fabil sangat singkat, namun saya tetap punya cerita dengan Fabil, selamat jalan Fabil, semoga Fabil tenang dan bahagia di alam akhirat sana. Amin.

Waktu pasti berlalu, waktu boleh berlalu, lahir dan mati itu sudah kodrat manusia. Yang menjadi derajat adalah bagaimana kita menjalankan proses dari lahir hingga mati itu dengan menjadi makhluk yang bisa bersahaja, makhluk yang tidak serakah dengan duniawi, makhluk yang siap menjadi penghuni surgawi, dengan proses hidup yang penuh dengan warna, warna putih yang kita dapat sedari lahir, semoga kita warnai dengan warna-warna yang terang dan cerah. Kenangan itu bisa menjadi cerita, harapan itu juga menjadi akan menjadi cerita. Dan semoga kenangan dan harapan itu bisa menjadi lentera kita untuk lebih siap!


“Saat duka bersama, tawa bersama, berpacu dalam prestasi hal yang biasa, satu persatu memori terekam, Di dalam api semangat yang tak mudah padam, Ku yakin kau pasti sama dengan diriku, Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu. Kawan kau tahu, kawan kau tahu kan? Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan”



“Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan, Tetap berpegang tangan, saling berpelukan, Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan, Kenanglah sahabat, kita untuk slamanya”
-Bondan.

Jumat, 04 Februari 2011

Wish her all the best


Usianya sudah mencapai separuh abad ditambah satu tahun.
Ada banyak doaku untuknya.
Aku tahu Tuhan, aku tidak boleh meminta padaMu untuk dipanjangkan umurnya,
Hanya saja bila diridhoi, semoga waktu ku untuk bersamanya masih banyak Engkau sediakan.
Setidaknya untuk melihatnya selalu bahagia ya Allah.
Amin.



Senin, 31 Januari 2011

Asa Menjelang Februari


Ah, Aku ingat. Suatu hari dimana kita bernyanyi bersama. Saat seolah tak akan kita rasakan lagi hangatnya mentari saat hujan yang turun itu ternyata justru mampu membahagiakan kita. Saat seolah tak akan kita rasakan lagi sejuknya pagi saat malam yang gelap itu ternyata justru mampu menyamankan kita. Saat seolah tak akan kita rasakan lagi cerianya keramaian itu saat sepi yang datang itu ternyata justru sungguh mampu mendamaikan kita.

“Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai, ya sudahlah”

Ya sudahlah. Jika saat ini kau belum mampu mendapat nilai A di mata kuliah yang kau harapkan, jika saat ini kau masih gagal di presentasi mata kuliah farmakologi mu, jika saat ini kau belum lulus masuk perguruan tinggi yang kau harapkan atau sekolah tinggi yang kau dambakan, atau jika kau harus merelakan namamu tidak ada di daftar nama mahasiswa jurusan kedokteran, atau jika kau harus terima kenyataan harus mengulang di pelajaran matematika atau fisika, atau jika kau ternyata masih belum berhasil di tes wawancara saat menghadapi para manajer itu, atau jika kau tahu saat proposal yang kau ajukan masih belum diterima, atau jika kau harus pulang dengan tidak membawa piala satu pun yang bisa dibanggakan kepada orangtuamu, atau apapun itu.

Ya sudahlah. Aku, kau dan kita, hanya belum bukan tidak. Mungkin pada saat itu kau belum belajar dengan maksimal sehingga kau belum lulus di setiap ujianmu. Atau perkataanmu mungkin belum tertata saat kau berbicara di depan manajer itu. Tidak apa-apa. Hanya yang aku tahu dan aku yakin kita pun tahu, Tuhan tahu bahwa ini bukan saatnya. Tuhan mungkin ingin kau dan kita bisa lebih siap untuk tampil di depan dunia dengan mengusungkan dada dan berkata “kita bisa, dan kita akan berhasil”. Suatu hari kita harus bersiap menghadapi hari itu dengan senyum yang lebar, dengan sambut tangan sang dunia.

Aku berhak bermimpi. Kau berhak bermimpi. Kita berhak bermimpi. Bermimpi itu biasa, Yang menjadi luar biasa adalah bagaimana kita mampu mensyukuri ketika mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi lagi atau bagaimana kita mampu terus mengejar dan menyapa ramah mimpi demi mimpi tadi saat merekalah yang sekarang belum enggan menyapa kita.

“juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang, bagai deras ombak yang menabrak karang, namun ku tahu, ku tahu kau mampu tuk tetap tenang”

Ya sudahlah. Bukan hidup jika tidak ada aral dihadapmu. Jika rutinmu yang begitu-begitu saja sehingga sudah terlalu membosankan dan menjenuhkan, atau jika jerihmu yang dianggap terlalu tidak berharga sehingga engkau muak begitu berpayah-payah dengan peluh, atau jika semua keringatmu dianggap seolah bagai tidak lebih dari tetes liur, atau jika karyamu di tepis bagai mengibas angin panas di musim panas. Atau apapun itu.

Ya sudahlah. Mungkin belum saatnya mereka membutuhkan aku, kau dan kita. Tuhan sedang menguji kesabaran kita. Kita hanya belum saja terlihat karena sesaknya orang-orang yang kebanyakan memang sedikit lebih dulu berlebih dari kita. Tenang saja, mungkin kapalnya akan berlabuh kembali dan kita juga akan pergi menyusul mereka. Mereka hanya lebih dulu sedikit dari kita. Bukankah kapal yang terlalu penuh dan sesak juga beresiko goyah dan karam di tengah luasnya lautan itu? Kita disuruh menunggu sebentar, sampai kapal tidak lagi penuh dan kita tergolong orang-orang yang sedikit dan aman itu.

“Saat kau berharap keramahan cinta, tak pernah kau dapat, ya sudahlah”

Ya sudahlah. Jika memang kisahmu tak sebahagia kisah Cinderella dan pangeran tampannya, atau jika cerita yang harus kau lalui harus setragis kisah Romeo and Juliet, atau jika kau harus mengalami kepedihan yang sama dengan Dawson dalam layar Titanic, atau jika cintamu tak terbalas, atau jika cintamu terkhianati oleh kejamnya perselingkuhan, atau jika kisah cintamu harus dinodai dengan perbedaan prinsip atau seribu jenis macam perbedaan yang tidak membawa kisahmu pada kebahagiaan. Atau apapun itu.

Ya sudahlah. Tuhan tidak jahat, Tuhan hanya mungkin menguji ketulusan kita. Kita hanya belum saja dipertemukan dengan mereka yang benar-benar akan membuat kita bahagia. Tuhan punya rencana. Tuhan pasti punya jalan yang lebih mulus untuk kita pada akhirnya akan merasakan keindahan pada waktunya. Aku, kau, dan kita akan jatuh cinta lagi, akan bahagia.

Memang sulit. Memang sakit. Aku yakin, dan aku tahu ini sungguh basi, tapi ingin ku tegaskan kepada kau, kepada kita semua bahwa Tuhan memang adil, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kau tahu, dibalik ketampanan, kecantikan, kesuksesan, kekayaan mereka, ada yang tahu berapa berat beban yang harus mereka tanggung?. Mungkin kau atau aku yang belum seberuntung mereka, tidak juga seiba mereka yang harus diberikan beban yang begitu berat yang harus mereka emban. Tuhan pun sudah menjamin bahwa tidak akan memberi ku, kau, dan kita lembar ujian yang berisi soal-soal yang tidak mampu kita isi. Tinggal bagaimana kau meyakini apakah jawaban yang kau tulis itu benar atau tidak, dan murni hasil jerihmu sendiri.

“Satu dari sekian kemungkinan, kau jatuh tanpa ada harapan, saat itu raga kupersembahkan bersama jiwa, cita,cinta dan harapan. Kita sambung satu persatu sebab akibat, tapi tenanglah mata hati kita kan lihat, menuntun ke arah mata angin bahagia, kau dan aku tahu jalan selalu ada”

Tuhan, saat aku benar-benar merasa hidupku benar-benar tidak mempunyai semangat dan gairah, aku hanya ingin terus memegang kalbu dan syahdu Mu Tuhan. Jangan jadikan hamba seorang yang sombong, Tuhan. Jangan jadikan hamba seorang yang lupa, Tuhan.

Januari Mu beberapa detik lagi akan segera berakhir. Sebulan sudah Kau beri usiaku di tahun 2011 ini. Sejujurnya aku masih sama Tuhan, tidak ada yang berubah dari ku, lalaiku masih sering Kau lihat, keluhku masih sering Kau dengar, sombongku masih terlalu sering Kau rasa. Tuntun terus hamba Mu Allahku.
Mulai hari ini, lupakan sakit itu, lupakan luka itu. mulai hari ini, aku punya hati yang baru, hati yang siapku persembahkan kepada hamba yang memang telah Engkau tetapkan untukku. Hamba yang siap menuntunku di jalan-Mu Allah. Bantu aku menjadi pribadi yang lebih siap dalam menjalankan tugas pada saat ini, itu saja Allah.

Semester 6 yang akan dimulai tanggal 7 febuari nanti harus jadi semester penutup yang harus penting. Setelah berdoa dan meminta petunjuk Tuhan dan teman-teman, sudah fokus dengan konsentrasi sumber daya manusia sebagai spesifik ilmu yang akan saya manfaatkan di dunia kerja saya nanti, spesifikasi ini pula yang akan menjadi ruang lingkup besar skripsi kamu Nina. Mata kuliah konsentrasi sumber daya manusia dalam semester 6 ini ada dua, yaitu PSDM dan AK, harus bisa mendapat nilai A untuk kedua mata kuliah ini. Bagaimanapun caranya! Tidak boleh menyepelehkan mata kuliah yang seperti ini lagi! Tidak boleh menyepelehkan materi yang disampaikan lagi! Tidak boleh mengabaikan dosen lagi! Harus A ! Amin Allah!

Semester enam ini ada 7 mata kuliah, mata kuliah yang sudah terlihat membosankan dan agak sedikit menyusahkan sepertinya administrasi lingkungan dan akuntansi pemerintahan. Please Allah, tidak boleh jatuh di mata kuliah ini, nilai minimal yang harus dicapai adalah B, tidak boleh ada nilai C di semester genap terakhir ini! Semester 6 ini semoga bisa dapet tempat magang di salah satu dari tempat ini :
-          Kementrian Keuangan RI ( dirjen bea/cukai, dirjen pajak, atau dirjen perbendaharaan)
-          Kementrian Luar Negeri RI
-          Bank Indonesia
-          Badan Pemeriksa Keuangan RI
Semester 6 adalah semester penyelenggaraan magang, baiklah! susun proposal sebaik dan sebagus mungkin supaya bisa masuk dan diterima di salah satu dari tempat tersebut. Pernah bisa menjadi bagian dari salah satu tempat tersebut bisa jadi pengalaman yang sangat berharga ya Allah, boleh ya Allahku? Amin.

Kebiasaan menunda-nunda tugas, Kebiasaan menyelesaikan tugas dengan tidak maksimal, Kebiasaan referensi minim, kebiasaan menyepelehkan tugas, kebiasaan deadliner, kebiasaan begadang ngerjain tugas sampe akhirnya di kelas ngantuk dan akhirnya ga merhatiin dosen dan berujung pada ketidakmengertian pada materi kuliah, kebiasaan itu semua TIDAK BOLEH LAGI! Nilai Magang tidak boleh dibawah B. Magang harus dipersiapkan secara maksimal, semoga di tempat magang nanti semua tugas bisa dijalankan dengan baik, Amin.

SKRIPSI, biar bisa 3,5 tahun! Inget nina! Cita-cita lulus kuliah 3,5 tahun dengan ipk cumlaude, walaupun pada akhirnya ternyata ga bisa cumlaude, tapi harus bisa 3,5 tahun! harus bisa! Bisa Nina! Febuari 2012 wisuda! Amin! 

Konferensi Nasional 2011 semoga sukses! Konferensi nasional tahun ini adalah mungkin akan jadi rangkaian kegiatan kepanitiaan terakhir selama kuliah, semoga sukses Ya Allah! Semoga perjuangan semua panitia dibayar dengan acara yang sukses dan lancar sehingga bisa meningkatkan nama baik jurusan ilmu administrasi negara FISIP UI. Amin. IPK harus naik lagi ! kalo bisa jadi CumLaude, haha! Semoga bisa menyabet predikat mahasiswa UI yang lulus dengan ipk diatas 3,5. Amin Ya Allah.

Okay, cukup. Cukup menanti sesuatu yang tidak pasti. Motivasi dan semangat ku masih dan akan selalu mama dan papa. Jangan kecewakan mereka. Buat mereka tersenyum! Buat mama menangis untukku karena bahagianya! Lupakan mereka! Lupakan RJFS dan MSS dan FPP ! lupakan mereka! Bisa ! Cuma masalah waktu ! Rindu setengah mati adalah masalah kecil, sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain-main ! Ga boleh sedih lagi! Ga boleh nangis lagi! biarkan mereka pergi! Ikhlaskan mereka dengan senyuman.

Jika Tuhan masih memberiku usia, 2011 adalah tahun aku menginjak usia dengan angka 20. Angka yang sudah bukan waktunya lagi untuk bersenang-senang ria, bermain-main ria, waktunya untuk serius. 2011 fokus kuliah! Fokus skripsi !

Doaku di penghujung januari ini Ya Allah,
Izinkan hamba senantiasa sehat Ya Allah, Bantu hamba tidak menjadi hamba yang lalai dan malas lagi Ya Allah, bantu hamba untuk tidak menjadi hamba yang sombong dan lancang lagi Ya Allah. Lancarkanlah setiap urusan hamba Ya Allah, berikanlah hamba, dan orangtua hamba, keluarga hamba, sahabat dan kerabat hamba kesehatan dan kebahagiaan Ya Allah. Izinkan hamba memiliki waktu yang lebih lama untuk bersama mereka Ya Allah. Setidaknya untuk memberiku senyuman bahagia mereka untukku.
Amin Ya Robbal Alamin J

“ satukan langkah..langkah yg beriring! genggam hati, rangkul emosi! Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu, Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be Okay 


Jumat, 28 Januari 2011

keri keri pingu

R : "tau ga kalo pinguin jantan ngasih kerikil buat pinguin betina untuk jadi pasangannya?"
N : "oh ya?"
R : "iya, ni aku kasih kerikil ke kamu"
N : "................, tapi kan aku bukan pinguin ?!?"


anyway, thank you my cooba
look at your nice gravel ^_^

Kamis, 27 Januari 2011

aku, dia, kita


Sesaat sebelum aku menulis ini, aku baru saja selesai berbincang dengannya. Masih. Masih kurasakan jantungku bergetar  cepat tidak seperti biasanya saat berbicara dengannya. Masih. Masih kurasakan kadang-kadang  tanganku  menjadi  dingin tak seperti biasanya saat aku mendengarkan kata demi kata yang dia ucapkan padaku. Setiap apa yang dia berikan, sungguh tak ada lagi kekuatan untuk memungkirinya, bahkan jika ada yang menyuruhku untuk segera menganggap itu tak ada, maka dengan seribu maaf tanganku akan ku angkat tinggi pertanda serahku. Pertanda tak sanggupku.

Entah sudah berapa banyak kata-katanya yang terlalu berharga bagiku, entah sudah berapa banyak lagu yang dia nyanyikan untukku, walau bukan lirik yang dia ciptakan sendiri, tetap terlalu berharga bagiku, entah sudah berapa banyak kado-kado kecil yang mungkin hampir tidak bisa diterka materinya yang dia berikan kepadaku, semuanya terlalu berharga bagiku,. Hingga aku hampir gila seperti ini Tuhan.
Dulu, dia bukan siapa-siapa.

Aku, dia, kita. hanyalah anak yang sedang beranjak remaja, yang saling merasakan nyaman karena naluri remaja yang sedang membara kata orang. Sampai aku benar-benar tidak mengira bahwa aku harus melalui semua ini dengannya.
Aku, dia, kita. Hanya ingin. Sudah kubilang tadi, hanya bagian dari naluri seorang anak yang tumbuh remaja dimana rasa ingin tahunya sedang menggebu-gebu. Seperti mereka yang sudah sedikit lebih tua dari kami. Sampai aku merasa begitu ingin melihatnya setiap hari. Sampai aku merasa begitu ingin bersamanya setiap hari. Sampai aku merasa begitu memikirkannya setiap hari. Jantungku yang berdetak begitu cepat yang masih kurasakan hingga saat ini mulai kurasakan sejak waktu itu. tingkahku yang salah-salah yang masih sering kulakukan sampai saat ini sudah kurasakan sejak saat itu.

Aku, dia, kita. Merasakan hal yang sama. Hingga aku merasakan betapa senangnya aku waktu itu. Tidak ada. Hanya kami mencoba tidak membohongi diri kami sendiri.
Aku, dia, kita. Dua sosok yang saling tidak pernah satu, mendadak berubah menjadi sosok yang sok lembut menurutku. Kami merasa canggung. Tapi kami senang. Kami mungkin tidak menjadi diri kami sendiri pada waktu itu. mungkin kami terjebak pada naluri remaja kami. Ah sudahlah, anggap saja begitu. Aku senang, dia pun begitu (akunya). 

Waktu 3 kali seminggu itu merupakan waktu yang sangat ku nanti pada waktu itu. Waktu 3 kali seminggu merupakan waktu yang sangat berharga bagiku pada saat itu. aku tidak ingin mengerti apa-apa pada waktu itu, yang ku tahu aku ingin begitu melihatnya setiap hari. Aku memikirkannya setiap hari. Belia usiaku. Apa terlalu belia? Pikirku. Mungkin juga.

Aku, dia, kita.Seperti itu saja. Seiring waktu terus berjalan.Tidak terlalu banyak yang kuingat bagaimana kami dulu. Menunggu bus. Kehujanan. Makan siomay. Sandal putus. Obrolan kami belum mengandung makna yang terlalu berarti, hanya obrolan remaja. Dan kami belum mengenal istilah perbedaan. Apalah itu. Beranjak sedikit dewasa. Aku benci menjadi tumbuh dewasa. Dia pun begitu.Kami jauh.Aku mulai tidak mengerti apalah kami ini. Karena aku pun mulai mengerti seperti apa kami. Aku mulai mengerti ternyata kami ini. Dia pun begitu ku rasa.

Aku masih begitu ingin melihatnya setiap hari, jika tidak bisa, dua hari sekali pun tak apa, jika tidak bisa tiga hari sekali pun tak apa, jika masih tetap tidak bisa, seminggu sekali pun tak apa. Sebulan sekali pun tak apa.

Aku. Dia, kita. Apa mungkin berbeda? Aku goyah. Mereka yang aku ranahi berbeda dengannya. Aku sadar kami berbeda. Aku sadar kami hanya bermain. Aku sadar kami tak bisa sama. Saat kami berdua sudah cukup pintar untuk menyadari satu persatu perbedaan itu.

Aku, dia, kita. Benar-benar berbeda. Tidak sekedar aku yang tidak terlalu suka makanan yang terlalu pedas, dia sebaliknya.Tidak sekedar dia yang tidak terlalu suka hal-hal yang berbau pantai, aku sebaliknya.Tidak sekedar aku yang tidak terlalu suka music jazz dan klasik, dia sebaliknya.Tidak sekedar itu.Lebih banyak dari itu. dan kami belum tahu apakah hal-hal yang lebih dari itu patut dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam perbedaan kami berdua.

Topik pembicaraan kami begitu minim. Kami tidak seharmonis dulu saat aku dan dia belum cukup dewasa untuk mengerti semuanya. Aku merasa bukan siapa-siapa. Aku merasa tidak padanya.Aku bosan. Aku Jenuh. Mungkin juga dirinya.

Pagi, siang, sore, malam. Aku ingin setiap hari ada sosok yang mengingatkan ku akan Mu. Aku ingin itu dia. Tapi bukan. Dambaku bisa merayakan kemenanganku setahun sekali itu dengannya. Tapi tidak. Itulah fatalnya. Dan aku baru sadar itu, Tuhan.

Saat jenuhku. Saat bosanku. Tapi jujur, rinduku selalu miliknya.
Jika waktu itu aku harus ditanya setiap detik tentang siapa seseorang yang paling aku rindukan? Maka namanya selalu bergema di dalam hati ku. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, tidak jua bertemu. Aku menyudahi. Sudah. Tangisku hanya untuknya saat itu. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Aku dan dia ternyata masih terpaut rindu yang sama. Tuhan, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Aku benar-benar tidak bisa berserah. Kau tahu, Tuhan? Betapa bahagianya aku saat itu saat aku mengetahui bahwa rindunya juga untukku.

Aku, dia, kembali. Sesaat bahagia memang. Aku dan dia tidak lagi anak kecil, naluri remaja yang dimiliki tinggal sedikit lagi. Mulai saat itulah, aku benar-benar yakin bahwa mungkin memang saat itulah aku dikaruniai anugerah yang kebanyakan orang menyebutnya anugrah paling indah sedunia. Sayang yang aku punya, mungkin salah jika kukatakan tak terhingga untuknya. Tapi tidak juga sedikit. Sudahlah. Aku bosan menjawab untuk setiap pertanyaan mengapa. Kami tak memburuk. Kami hanya tak nyaman dengan perbedaan itu. benar-benar tak nyaman.

Hingga giliran dia yang menyudahi. Kali ini sungguh lama. Kau tahu, Tuhan? Aku yakin Kau tahu, bagaimana aku melewati dua tahun yang lebih itu dengan menahan rasa perihku. Aku rindu padanya.  Sampai aku yakin Kau benar-benar ingin memisahkan aku dengannya. Semua hilang.

Namun, ternyata hari-hari masih bisa kulalui. Dunia belum berakhir ternyata.
Jika rindu sudah terlalu memuncak, aku hanya bisa menangis. Jika rindu sudah terlalu menumpuk, aku hanya bisa memanggilnya dalam hati. Ya sudahlah, itu hari-hari terburuk. Namun, Tuhan tetap baik. aku hanya menyayangkan satu tahap penting dalam hidupku dan hidupnya tidak bisa kami bagi satu sama lain.

Sampai Tuhan, mungkin rindu kami yang masih terpaut lagi. Saat aku sudah sangat terbiasa menyambut rindu yang datang dengan tanpa kuberikan suguhan apapun. Ternyata, Tuhan lah yang menyiapkan suguhan itu. Sampai dia kembali. Kami pun kembali. Ah, entahlah berapa banyak aral yang datang. Tak banyak kata aku untuk menutur lagi.

Kini, aku dan dia bukanlah remaja yang baru akan menginjak masa ingin tahu yang besar. Aku sekarang sudah sedikit lebih tahu Tuhan.
Kini, aku dan dia tidak seharusnya menjadi pribadi yang masih bisa menggantungkan mimpi kami Tuhan.
Kami punya jalan, tentu jalan yang telah Engkau tetapkan.
Hanya satu Tuhan, aku pinta untuknya, jika kami memang Engkau hendaki untuk bersama, maka tunjukkan Tuhan, tunjukkan bagaimana Tuhan, tuntun kami Tuhan.
Namun, jika tidak Tuhan, maka jangan Kau biarkan kami seperti mendamba matahari terik di tengah musim hujan ini Tuhan. Tunjukkan Tuhan.


sejenak tadi

16 januari 2011



novel karya penulis lokal yang tidak bisa aku dapat di kota belimbing itu, akhirnya bisa kutemukan di kota sungai ini. kutemukan dengan bantuan tangannya, ku beli sejenak tadi dengan ditemani olehnya. sementara kijangnya tetap melaju tenang, lagi, tiba-tiba kami berhenti di sisi jalan lagi.
"kok berhenti, kenapa?"
"pinjem novel yang tdi kmu beli dong..kmu tolong beliin aku minum dulu ya, haus deh"
heran.
mungkin sekitar sepuluh menit. sebotol air mineral dingin dalam genggamanku.

lalu ia bergumam, "ada yang bagus nih, denger ya, aku bacain.."
           
           "..jika suatu hari kau temukan cinta, jangan kau terima sebelum kau tersiksa dan terlunta-lunta olehnya."
           "kenapa?"
            "..karena itu memang jalannya."
           "haruskah dengan derita, baru bisa menemukan cinta?"
           "..setidaknya, begitulah aku pernah mengalaminya. dalam lebur penantian yang tersia-sia, dalam gelisah     yang menguras logika, dalam belitan asa yang menciumi puncak pengharapan membabi buta."
          "dan akhirnya?"
           "..tak juga kutemukan cinta."
          "kurang dalamkah kau tersiksa atau..?
           "..sepertinya. penantian,gelisah, dan gunungan asa yang kualamatkan untuk satu nama, ternyata masih menyisakan pamrih dalam alurnya. aku berharap ia membalas cintaku. itu PAMRIH ku. padahal, itu TAK semestinya ku lakukan. cinta mestinya kubangun TANPA SYARAT, tanpa imbalan apa-apa."
         "Lalu, untuk apa kau tetap menanti? "
         "..karena setidaknya, bisa mencintainya meski tak terbalas, itu adalah sebuah anugrah tak terhingga. Bisa mencintainya saja, TELAH CUKUP BAGIKU"

"bagus kan? halaman 126..hehe"
kijang nya melaju tenang lagi.
aku? jangan kau tanya, aku diam,,mencoba meresap dan mengartikan apa yg dia katakan tadi.
belum dapat artinya, dia bergumam lagi,
"eh, tadi yang aku bacain ke kamu, kalimat nya ada yang salah deh, itu kalimat yg terakhir yang ada kata "nya" nya, kamu ganti jadi "mu" ya?"

"ngomong apa sih?"
ku buka novelku halaman 126, dalam kijangnya yang gelap, aku membaca kalimat demi kalimat.
dalam hatiku ku mengulang apa yang dia katakan tadi, "eh, tadi yang aku bacain ke kamu, kalimat nya ada yang salah deh, itu kalimat yg terakhir yang ada kata "nya" nya, kamu ganti jadi "mu" ya?"

kurasakan dingin tanganku karena dingin yang dihantarkan oleh sebotol mineral dingin yang sedari tadi ku genggam.
aku menoleh kepadanya.
dia menyadari tolehanku.
aku..
dia..
tersenyum.
:)

Sabtu, 01 Januari 2011

First


Malam ini. 22.09, aku senang Tuhan, aku senang. Aku bahagia. Aku yakin ini restu-Mu Tuhan, aku yakin semua ini tidak terjadi jika tanpa restu-Mu, entah apa ini akan selamanya, entah apa hari ini saja, entah apa besok saja, entah apa kemarin saja, tidak aku jadikan pelik ku Tuhan. aku hari ini ingin bersyukur pada-mu Tuhan. Terimakasih Tuhan.

Hari ini, dunia memberi nama sebuah hari baru, hari pertama, di tahun 2011.
Matahari-Mu pagi ini biasa saja, Angin yang bertiup juga tak sedingin hari kemarin, hari-Mu cerah. Hari yang ku lewati biasa saja, sampai siang-Mu, sampai sore-Mu, sampai malam-Mu pun Tuhan.
Hingga kabar itu datang, kabar gembiraMu Tuhan.

Aku hanya meminta kepada-Mu disubuhku tadi, pintaku sama seperti pinta yang lain, jadikan 2011 ini tahun yang baik Tuhan, izinkan Aku menemukan jalanku yang juga  jalan-mu Ya Tuhan, tuntun aku Tuhan, beri setiap ridho-mu di setiap jalanku Tuhan. Pinta ku di hari pertama 2011.
Di 2010, aku telah banyak meragukan-Mu Tuhan, ampun Tuhan. Aku telah terlalu sering berdosa Tuhan,  aku labil, aku munafik. Aku hilang arah-Mu, aku hanya berjalan dengan pikirku sendiri, aku hanya berjalan dengan nikmatku sendiri.

Malam ini, sebelum hari pertama di tahun 2011 ini berakhir, aku ingin berterimakasih pada Mu Tuhan, terimakasih Tuhan, aku tidak tahu rencana Mu selanjutnya apa, aku juga tidak tahu apa yang Kau atur di balik kebahagiaan ini, aku hanya ingin berterimakasih Tuhan, Kau baik, Kau baik, Kau baik.

Dia selalu bilang, “God is best director”, itu Engkau Tuhan, yang dia bicarakan itu adalah Engkau Tuhan. Dan aku yakin itu.  dan sampai detik ini Kau masih mengizinkan aku tetap memegangnya, aku percaya itu bagian dari scenario Mu Tuhan, bukan scenario ku, atau scenario nya, apalagi scenario mereka, itu scenario Mu Tuhan. Dan memang Kau lah yang berhak mengatur skenario itu.

Dia bilang, ”ini imbalan  tulus kita”,
Apa itu benar Tuhan? Apa ini imbalan Mu terhadap ku ? aku tahu begitu lancangnya aku berani menyebut kata imbalan, apa yang sudah aku beri padaMu memangnya? Tapi aku merasakan sentuhanMu Tuhan, aku merasakan. Tapi memang aku Tulus, aku tidak berharap apa apa dari semua ini, aku hanya berserah padaMu Tuhan, lagi lagi aku yakin bahwa ini semua adalah goresan Mu Tuhan, bukan goresanku, atau goresannya, apalagi goresan mereka. 

Filosofi yang aku dan nya saling bagi, “pelangi”, “persimpangan jalan”, “sutradara”, “pengamen”, dan hingga tak terhingga. Seolah-olah aku dapat jawabanMu Tuhan. semoga ini pertanda baik. Dan satu lagi boleh aku tambahkan daftar doaku di awal 2011 ini Tuhan, izinkan ini berlangsung selamanya Tuhan, izinkan ini selamanya Tuhan, izinkan aku bersamanya Tuhan, dengan apapun itu jalan yang Kau tentukan.

Aku janji Tuhan, Aku tetap pada-Mu Tuhan, aku tetap pada Allah. Sampai aku mati. Tapi terimakasih Tuhan untuk hari ini. Aku senang.


Kamis, 30 Desember 2010

Tuhan, ampun atas mereka, syukur pun atas mereka

Hujan. Deras. Angin di hari- hari terakhir tahun ini benar-benar lembab. Lembab seperti batu berlumut yang terpojok bertahan di tengah derasnya aliran air sungai, lembab seperti daun yang gugur di tengah hutan yang lebat, lembab seperti ruang hampa yang tidak dihuni selama ratusan tahun, lembab seperti embun yang membasahi jendela di pagi hari. Selembab hatiku.

Desember ku, 2010 ku, 50 jam 15 menit lagi akan berakhir, dan aku masih disini, seperti kura-kura yang ingin mengejar larinya kelinci, tapi tak bisa karena terlalu lambat berjalan. Kelinci yang bahkan bukan sesuatu yang hebat, hanya sesuatu yang selalu ingin menang, masih saja kura-kura ingin mengejarnya, padahal kelinci bukan siapa-siapa, kelinci tidak hebat. Dasar kura-kura bodoh. Kura-kura malah lebih hebat, bisa BERTAHAN hidup selama ratusan tahun, walaupun jalan nya yang lambat, bahkan tidak mampu menyamakan satu perseribu nya kecepatan kelinci. Tapi justru kelinci yang harusnya kalah dari kura-kura, kelinci yang hanya mampu BERTAHAN hidup dalam hitungan bulan, bahkan tidak mampu menyamakan satu per seribunya usia kura-kura. Tapi tetap saja kura-kura selalu ingin mengejar kelinci. Kura-kura dan kelinci tidak pantas di adu, tidak pantas di baik buruk kan, keduanya berbeda. Ah, aku benci berbeda. Tapi itulah kenyataannya, memang berbeda, tapi aku tetap saja benci dengan berbeda. Tapi itulah lagi kenyataannya. Kura-kura tahu tidak? Entah sekarang Tuhan ada dimana, aku yakin Tuhan tidak akan menciptakan ciptaannya jika tidak berbeda. Tuhan menciptakan makhluk dengan rezekinya masing-masing. Lebihnya pun rezekinya. Kurangnya pun rezekinya. Tidak ada yang hanya punya lebih. Tidak ada yang hanya punya kurang. Semua sama. Oh, akhirnya aku menulis kata sama. Tapi tetap saja berbeda. Mungkin bukan sama lebih tepatnya, teradil.

Desember ku, 2010 ku, 50 jam 13 menit lagi akan berakhir, dan aku disini seperti si buruk rupa yang selalu mengeluh akan rupanya, seperti buruk rupa yang sedang meratapi sepinya, seperti buruk rupa yang sedang meratapi rananya. buruk rupa tahu tidak? Entah Tuhan sedang ada dimana sekarang, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan sekarang untukmu nanti. Aku yakin lagi, bahwa Tuhan tidak akan menguji ciptaannya jika tidak bisa di uji. Tuhan menciptakan makhluk dengan bahagianya masing-masing. Di balik rupamu yang buruk, jika hatimu yang kau rias, maka Tuhan akan memberimu cantik, bahkan lebih cantik dari seorang yang paling cantik dari yang tercantik di dunia ini. Sekarang atau nanti. Banyak atau sedikit. Oh bukan, kebahagiaan tidak bisa diukur banyak atau sedikit. Tapi tetap saja berbeda. Mungkin bukan banyak atau sedikit lebih tepatnya, tak terhingga.

Desember ku, 2010 ku, 50 jam  10 menit lagi akan berakhir, dan aku disini seperti burung yang baru saja patah sayapnya, burung yang ditinggal koloninya, burung yang tidak berdaya ketika mencoba kembali terbang, ketika mencoba kembali mengepakkan sayapnya, burung yang terhempas ke tanah dari ketinggian yang tinggi, burung yang hanya bisa mengharap kedatangan seorang manusia berbaik hati untuk sekedar merawat dirinya, setidaknya merawatnya hingga sayapnya pulih kembali. Dengan tidak menaruh harapan bahwa suatu saat burung bisa kembali terbang bebas lepas di langit. Burung telah berjanjii bahwa dia akan ikhlas jika sang manusia tidak melepas nya ke alam bebas tapi justru merawatnya dalam sebuah kurungan, entah itu terbuat dari emas atau pun bukan, burung hanya ingin berterima kasih, burung hanya ingin setia, burung hanya ingin menghargai. Burung tau tidak? Entah Tuhan ada dimana sekarang, aku yakin Tuhan memang sudah menetapkan tempat yang terbaik bagi makhluknya, bagus atau tidak, mewah atau tidak. Jika itu tempatmu sekarang, maka itulah tempat yang telah ditetapkan Tuhan untukmu. Di balik sayapmu yang patah, jika hatimu yang kau jaga, Tuhan akan memberimu kuat, bahkan lebih kuat dari sayapmu dulu atau lebih kuat dari yang paling kuat dari yang terkuat. Mungkin bukan mewah atau tidak atau bagus atau tidak lebih tepatnya, terbaik.

Desemberku, 2010 ku, 50 jam 3 menit lagi akan berakhir, dan aku masih disini seperti seorang pemulung yang sedang beristirahat di pinggir jalan, seperti pemulung yang sedang mengais tempat sampah berharap menemukan sesuatu yang dianggap orang tidak berharga namun bisa jadi sangat berharga baginya, seperti pemulung yang menyeka keringatnya dengan tangannya sendiri yang kotor, lalu bercampur dengan keringat, lalu keringatnya juga kotor, apalah arti kotor bagi seorang pemulung, kotor adalah bagian dari perjuangan hidupnya, jika takut kotor dia tidak hidup, jika takut kotor dia tidak akan mendapatkan uang, maka pemulung akan mati. Pemulung hanya ingin berjuang sendiri, berjuang dengan tidak mengambil apa yang bukan miliknya, mencoba memberi penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap apa yang sudah tidak dihargai oleh orang lain. Pemulung tahu tidak? Entah dimana Tuhan sekarang, aku yakin Tuhan sudah memberikan kedudukan terbaik bagi setiap makhluk ciptaannya, terhormat atau tidak, miskin atau kaya. Jika seperti itu kau sekarang, maka itulah kedudukan yang telah ditetapkan Tuhan untukmu. Pemulung bukan tidak berusaha, pemulung bukan malas, pemulung bukan tidak mau berjuang lebih keras lagi. Tuhan pasti punya kedudukan yang mulia bagimu jika kau tidak mengurangi kodratmu. Jika hatimu yang kau kayakan, maka kau akan kaya bahkan lebih kaya dari orang paling kaya dari orang yang terkaya di dunia ini. Mungkin bukan kaya atau miskin tepatnya, termulia.

Desember ku, 2010 ku, 49 jam 47 menit lagi akan berakhir.
Tuhan, aku mohon Ampun.
aku cuma kura-kura, cuma buruk rupa, cuma burung yang sayapnya patah, cuma pemulung.
Siapa aku setahun ini Tuhan? Apa aku setahun ini Tuhan? Mengapa aku setahun ini Tuhan? Bagaimana aku setahun ini Tuhan? Kapan aku setahun ini Tuhan? Dimana aku setahun ini Tuhan?

Hujan. Deras, angin di hari-hari terakhir ini benar-benar dingin. Dingin seperti kumpulan molekul di lautan luas itu, dingin seperti tubuh mayat yang sudah lama mati, dingin seperti lamanya kau menyentuh molekul air yang sudah membatu, sedingin hatiku.

Desember ku, 2010 ku, 49 jam 35 menit lagi akan berakhir.
Aku memandang ke arah wajah jendela. Basah karena rembesan air hujan-Mu yang deras.
Aku memandang ke arah wajahku sendiri. Basah karena rembesan air mata ku yang juga deras.

Tuhan, aku mohon Ampun, atas nikmatku yang bukan kehendak-Mu, atas ulahku yang bukan seruan-Mu, atas lalaiku yang bukan disiplin-Mu,
Tuhan, aku serah syukur, atas adanya kura-kura yang jalannya lambat itu, si buruk rupa itu, burung yang sayapnya patah itu, pemulung dengan keringat kotornya itu.
Desember ku, 2010 ku, 49 jam 26 menit lagi akan berakhir.