pelangi..pelangi...

pelangi..pelangi..
alangkah indahmu..
merah..kuning..hijau..
dilangit yang biruuu...

pelukismu agung...
siapa gerangan...
pelangi..
pelangi..
ciptaan Tuhann...

Kamis, 07 Maret 2013

About Married

Hi guys,
Gue menulis ini sesaat setelah gue sadar kalo sekarang umur gue 21 tahun, dan tahun ini kalo sampe bakal jadi 22.
Udah masuk usia dimana jaman SMP dulu gue menargetkan menikah setelah setahun pasca lulus kuliah, it means 22 tahun, and of course it means this year.
Tentu saja target sedemikian rupa bisa terbit pas usia gue belum cukup matang untuk mikirin sebuah pernikahan.
Jadi, setelah terlibat dalam berbagai macam topik obrolan mengarah, mulai dari ngobrol sama orang yg pengen nikah muda, ga pengen nikah muda, orang yang udah nikah, orang yg harusnya udah nikah tapi belum nikah, orang yang udah nikah tapi cerai, sampai ngobrol sama orang yg terpaksa nikah pun udah. Huft.
Whatever. Yang jelas, ini adalah hal yang pengen banget gue lakuin sebelum akhirnya gue ditakdirkan menikah. Amin.
Menikah itu, adalah ibadah. Niatnya harus karena Allah dan menaati apa-apa yang disuruh sama Allah tentang pernikahan.
Menikah itu, adalah bahagia. Yang berarti memberi dan diberi kebahagiaan.
Gue akan menikah pada saatnya Allah sudah menentukan pasangan yang tepat buat gue.
Kalo gue mencinta dan dicinta sama manusia yang kalo menikah sama dia ternyata gue ga bisa dibilang ibadah, berarti gue mugkin ga akan nikah sama dia.
Kalo gue dicinta sama orang yang seolah bikin gue bahagia, tapi ternyata gue ga balik mencinta, ga ada jaminan untuk bisa bahagia, dan mungkin gue juga ga akan menikah dengan orang ini.
kalo ada orang yang nanya, "kapan nikah?" sebenarnya jauh lubuk hati gue, itu ga sopan.
Karena lo sama aja kayak nanya "kapan lulus?, Kapan kerja?, atau kapan mati?"

Jodoh, rezeki, dan maut, ada di tangan Tuhan, ya kan?

Untukmu

Aku tahu ini adalah sekelumit dari rengekan yang lemah, yang seolah tidak melihat sisi kehidupan yang jauh lebih rumit dari ini.

Cukup memang aku tak mengerti yang lain, yang aku tahu memang selalu ini yang mampu mengalihkan semua daya yang diciptakan mengalir dalam diriku.

Entah apa alasan Tuhan mengizinkanku bertemu denganmu, mengenalmu, menyayangimu, sampai di titik hati kita bertemu.

Jika kau tanya lagi, sama denganmu, aku pun tak pernah tahu.
Kita seperti menyatu, mengetahui apa yang seharusnya kita ketahui.
Aku bersyukur karena kita tidak pernah mendustai diri kita sendiri.
Karena kita tahu bahagia seperti apa yang kita inginkan.

Kau benar, hidup itu memang pilihan.
Pilihan untuk menggapai apapun yang kita mau dalam rangka merasakan kebahagiaan.

Jika mereka berkata hati itu dipilih, bukan memilih.
Dengan rendah hati aku memilih tidak sepakat.
Hati itu memilih.
Menurutku, itu sama saja dengan hati dikorbankan, bukan mengorbankan selayaknya iya memang patut untuk diperjuangkan.

Sebagaimana hukum timbal balik,
sempurnanya adalah bagaimana hati bisa memilih dan dipilih untuk bersama mengarungi samudra besar, yang bernama kebahagiaan.

Jika kau bertanya lagi mengapa hati bisa memilih kita,
dan kita dipilih hati, aku memilihmu, dan aku dipilihmu,
silahkan arungi hati itu sendiri lalu berjuanglah temukan jawabnya,
aku akan lepas tangan, jangan lupa beritahu aku jika kau temu jawabnya,
aku selalu ada untuk mendengar.

Hatiku memilihmu,
Diluar kuasaku untuk membiarkan hatiku jugalah yang kau pilih.

Sama seperti hati yang mempunyai ruang rahasia, senjang bernama jarak dan waktu juga mempunyai rahasia didalamnya, yang akan membuktikan kita semakin mengikat atau justru semakin melepas.

Hati, waktu dan cinta.
Karunia terindah Sang Maha yang pada akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada hambaNya.

Menuju keputusan akhir segala persegi dari kehidupan, jangan abaikan huruf "t" yang membuat ketiganya menjadi bermakna dan begitu sempurna: Tuhan.



Kamis, 07 Februari 2013

Puisi Tak Berjudul

Semesta memuja.
Tercipta atas nama cinta, dari cinta dan untuk cinta.
Mulia.

Suci, syahdu, lembut jamahannya.
Bersahabat dengan mentari rembulan, beradu seiring berputarnya bola raksasa milik Sang Maha.
Menyentuh yang hina, menyentuh yang najis, tak pernah peduli.
Demi keutuhan kesucian bidadari cintanya.

Berjuang di bawah naungan cakrawala biru.
Berpijak di hantaran dingin fragmentasi bebatuan.
Enyahlah gerutu.
Demi ksatria dan bidadari-bidadarinya.

Peluh sebening embun.
Airmata tak beriak bak tenangnya air danau.
Darah sedingin salju.
Perjuangan.

Hujan badai petuah tatkala bidadari meronta.
Beliung tetesan mata jua tatkala pangeran terluka.

Tak dihirau apa dikata belakang telinga.
Genderang hanyalah siulan, tak mampu menggoyah kokohnya benteng cinta.
Semakin detik, semakin menit, semakin jam, semakin hari, semakin minggu, semakin bulan, semakin tahun, dan semakin banyak perputaran bumi.

Hanya satu yang tak lekang oleh zat waktu.
Hatinya, raganya, kasihnya,
Dan tentu saja, cintanya..
Yang atas seizin Pemilik jagat raya, semoga nirwana lah imbalannya.

Selamat ulang tahun kepada wanita yang dengan segenap hati paling aku cinta, Mama.

February, 03rd 2013

Hujan itu Berbicara

Hujan itu berbicara.
Hujan menyampaikan salam rindu.
Hujan mencapkan panah jodoh dan rezeki.

Hujan itu indah.
Cobalah sesekali berbincang dengannya.
Ketika hujan datang, cobalah sesekali berdiri dibawahnya, tadahkan tangan ke arah langit, rasakan tetesan-tetesan air suci itu menjabat tanganmu dengan lembut.
Indah.

Ketika hujan datang, cobalah sesekali keluar ruangan dan berdiri dibawahnya, angkat wajahmu arahkan ke langit, rasakan tetesan air suci itu membelai wajahmu dengan halus.
Indah.

Ketika sedang berteduh, sesekali sempatkanlah melihat hujan turun dari bawah teduhnya sebuah pohon, daun seperti membagi suka cita nya lewat tetesan hujan yang mereka hantar.
Indah.

Ketika sedang berteduh, sesekali carilah lampu jalan, lalu berdiri dibawahnya, saat inilah yang saya suka, tetesan hujan yang turun perlahan dengan disinari cahaya lampu, seperti salju.
Indah.

Hikmah Bersyukur

Adalah sebuah hari ketika penuh dengan seabrek aktivitas duniawi, pergi pagi pulang malam, waktu pulang adalah waktu yang paling dinanti-nanti, ngalahin waktu mau ketemu pacar. #halah
Tapi masih bisa bersyukur karena pergi masih bisa melihat matahari.

Hari ini, sepanjang hari ditemani dengan cuaca yang galau mengundang, hujan, reda, hujan lagi, berujung pada gerimis mengundang.
Seonggok daging dan lemak hidup bernyawa sedang duduk dalam mesin berjalan sedang menuju ke rumah dalam kondisi lelah, lelah jiwa dan raga #lebai.

Manusia tuh apa sih maunya ya? Yang sibuk beraktivitas, pengen libur.
Pas udah libur, maunya punya aktivitas. Termasuk saya.

Saya kangen libur. Dimana saya bisa bangun tidur, ga pake langsung mandi, setel tipi nonton inpotemen, ngunyah-ngunyah cantik, trus mandi, abis mandi baru nonton film seharian, nonton youtobe seharian, atau ngegame seharian.
Kangen. Banget.

Kalo seharian ujan, paling enak menggalaukan diri.
Kayak hari ini nih.
Dalam perjalanan pulang, saya merhatiin jalanan yang basah karena rintik gerimis yg daritadi belum reda (biar dramatis kayak sinetron).

Diiringi lagu pance "ku cobaaa bertahan, mendampingi dirimuuu" saya masih menikmati perjalanan.
Sampai perempatan lampu merah pertama, di luar ada bocah 8 tahunan, rambut di cat merah item, lebih mirip anak musang daripada anak gaul, ngetok2 kaca mobil, ngetok lebih dari 3x.
Saya pikir dia abis ngamen gitu, ternyata ga, dia cuma ngetok2 kaca, minta duit.
Pengen sih sebenarnya ngasih, tapi ngeliat anaknya itu, rambut pake di cat2 gitu, ngetok kaca kaya mau nodong, kan jadi males mau ngasihnya.
Kalo dikasih duit trus duitnya dipake buat beli "lem" atau dipake buat ngasih preman, mending ga usah dikasih ya ga sih?

Gerimis masih setia mengguyur bumi.
Sampai pada perempatan kedua, ada bocah 8 tahunan lagi, tapi yang ini lookingnya ga kayak yg tadi, bocah yg ini masih pake celana pendek warna merah, dipadukab atasan kaos dengan warna yang tak terdefinisi.#ifyouknowwhatimean

Tangannya menjulur ke arah kaca mobil sambil memegang sebuah surat kabar. Setelah kaca dibuka, "Pak, korannya Pak, cuma seribu, Pak."
Akhirnya koran dibeli oleh papa saya sambil bilang, "abis ini kamu pulang ya, ini udah malem dan gerimis, nanti masuk angin"
Bocah itu cuma mengangguk lesu.

Bayangin, jam segini yang udah masuk kategori larut malam, cuaca gerimis, dia masih gentayangan di jalan buat jualan sisa koran yg basah karena kena gerimis, ibarat makanan bisa dibilang udah basi lah.

But, anak ini better daripada yang tadi, mati-matian usaha nyari duit jualan koran ampe malem.
Ga pake minta-minta, ga pake ngemis, apalagi maksa atau nodong.

Dapetin duit seribu, malem itu masih ada kira-kira 3 koran lagi yang tersisa..
Uang 5 ribu, mungkin bagi sebagian anak yang orang tuanya tajir, segitu bahkan ga cukup buat jajan. Sedangkan buat si anak tadi, bisa jadi udah bisa nambahin uang buat makan sehari-hari, atau bisa nabung buat uang sekolah.

Beginilah hikmah bersyukur, usia segitu saya boro-boro ngerti maknanya uang 5 ribu,
kerjaannya cuma ngerti jajan, maen, merengek minta beliin ini, beliin itu, ga dikasih mulai deh ngambek.

Sekarang, udah disekolahin, udah dikuliahin, masih aja demen beli sesuatu yang seharusnya ga perlu dibeli sekarang. Beli sesuatu yang tujuannya cuma nurutin nafsu aja atau mau senang-senang aja.

Capek kuliah, ngeluh.
Capek kerja, ngeluh.
Dikit-dikit ngeluh.

Kenapa kita sering terlalu fokus sama penderitaan ya, selalu sibuk mikirin apa yg belum kita dapet daripada mensyukuri apa yang sudah bikin kita bahagia dan apa yang sudah kita dapet.

Bersyukur.

#Parenting

Nobody's perfect, even our parents, our brother/sister, our teacher, and of course ourself.
Every parent had been being a child. How about their childhood? Have they felt that their parent was so annoying?
Personally, I have.

I have been being a child. I love my parent very much. I'm proud of them so much. But, it doesn't mean that they're never let me down.

Because of it, learning from my life, i won't do anything that i never like from my parent, to my child next day.
Why? Because i know the feeling is.
This is a story about my daily's life.
There's a girl who was studying math in her private class with private teacher.
On the other side, her mommy watched for her, keep attend for her daughter at all.
When her teacher told her to finish some number of math, she couldn't fix it, even a number.
Teacher looked upset and talked to her mommy.
Then, what's happened?
In public rooms, her mommy getting mad.
Everyone could see it. Her mother spoke loudly so i could hear it clearly. So do the others.

I looked at the girl. She was so depressed. Of course she was.
Then i think, does she realizes that she was a bad mother?
Well, i never be a mother, but i can say like that because i'm a child.
If my mother do that, i'll say my mom is the bad mother around the world.

What did she feel? Shamed? The girl can't finish the exercise, is the situation will be better if she getting mad of her daughter in public rooms?
I don't think so.

Her daughter also has a feeling, her daughter don't want it. Her daughter want to make her parent proud of her. But, when everything is felt so hard for her, who's wrong? Who's must response? Who's must support?

Holding her hand, talking heart to heart, smiling, hugging, and the other affections.

If you can't be a best parent, at least you don't need to be a worst parent.

Percayalah, Rendy.

Suatu hari, kita akan tahu apa hikmah dibalik hal sekecil apapun yang terjadi dalam hidup kita.

Dibalik pertemuan kita, dibalik persahabatan kita, dibalik percacimakian kita, dibalik perasaan saling menyayangi kita, dibalik patahan-patahan hati kita, dibalik amarah kita,

Seandainya kita tidak bersama pun, masih ada hikmah dibalik perpisahan kita.

Percayalah, Rendy.
Sesehat dan sesakit apapun aku, nama kecilmu lah yang selalu ada di setiap munajatku.

Percayalah, Rendy.
Sejujur dan sedusta apapun aku, nama kecilmu lah yang aku panggil dalam hati di hari dimana aku membuka mata sampai aku memejamkan mata lagi.

Percayalah, Rendy.
Sesantai dan selelah apapun hariku, dirimu lah yang selalu aku harapkan hadir dalam kembang tidurku.

Percayalah, Rendy.
Sebesar dan sekecil apapun daya ingatku, raut dirimulah yang akan memenuhi ruang-ruang memoriku.

Percayalah, Rendy.
Sedekat dan sejauh apapun ragaku, aku menyayangimu.

Percayalah, Rendy.
Percayalah, Rendy.

Jumat, 04 Januari 2013

Momentum

Momentum tidak dapat dikejar.
Momentum hadir.
Begitu ia lewat, ia tidak lagi sebuah momentum.
Ia menjadi kenangan.
Dan, kenangan tidak akan membawa kita kemana-mana.
Kenangan adalah batu-batu diantara aliran sungai.
Kita seharusnya menjadi arus, bukan batu.

Bukankah kita seharusnya bisa memperbaiki kesalahan masa lalu?
Menghidupkan kembali momentum yang lewat, untuk kemudian merancang masa depan yang baru?
Aku hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari.
Aku ingin yakin dengan pilihanku. Itu saja.

Ada perbedaan besar antara memperbaiki dan menyesali,
tapi kita seperti tidak melihatnya.
Apa bedanya memperbaiki sesuatu di atas penyesalan, atau di atas perasaan sesal akan sesuatu yang bahkan belum terjadi? Tidak ada.
Selama kita masih terbayang-bayang oleh dua ketakutan itu, kita tidak akan kemana-mana.

Pembaruan hadir dalam setiap detik.
Perbaikan terjadi setiap saat, tapi ketakutan-ketakutan kita tadilah yang justru menghancurkan.
Setiap saat kita bisa terbang, asalkan kita percaya akan pembaruan yang hadir.
Menikmati momentum yang datang.
Tanpa ekspektasi apa-apa.

Segalanya terjadi tak terduga-duga.
Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian.
Hanya satu yang patut kita harapkan datang, yaitu yang tidak diharapkan.

Berhenti memilah antara apa yang diinginkan dan tidak,
lalu stagnasi hanya karena kita berkeras atas sesuatu yang sebenarnya harus berubah.
Berhenti juga menilai baik-buruk dari apa pun.
Bukan untuk itu kita hidup.
Kita adalah pengamat dan penikmat, bukan hakim.

Solar Plexus Candle Light, 1st dawn of 2013




Oh Habibie....Oh Ainun...

Do you ever feel so undefined after watching a movie? 
I do.

Ceritanya, saya habis nonton film yang diangkat dari tulisan buku dengan judul yang sama "Habibie Ainun".
Saya baca bukunya waktu masih di Depok tahun 2011,
dan ga ada perasaan apa-apa pas baca bukunya. (kok kayak ada yg aneh sama bahasa gue ya?)

Jadi pas tau akan difilmin dengan sosok Reza Rahadian yang jadi Habibie dan Bunga Citra yang jadi Ainun, lumayan sempat menjadikan film ini masuk list "wanted" saya.

Tapi, jeng jeng, pas timeline udah rame dengan hashtag #HabibieAinun, saya mulai memperhatikan, dan....berkesimpulan film ini mungkin akan lebih asik ditonton kalo lo udah berstatus calon istri orang.
Calon istri lhoo, bukan pacar, apalagi gebetan, apalagi yang ga jelas macam saya.
Filmya sarat akan virus kegalauan kalau saya tonton kayaknya.

List dicoret.

Yang namanya takdir ga bisa diubah yaa (sumpah ini lebay),
walaupun bertekad mau beli DVDnya aja nanti, dan berniat mau nonton sama.. ya kalo udah punya suami nanti (ini juga kalo suaminya belum nonton).
Tapi ternyata saya digariskan untuk nonton film ini setelah diajak sama partner complicated saya.
ditraktir apa salahnya kan? dan bisa ikutan ngeramein hashtag kan nanti, itung-itung bikin tugas resensi film di timeline twitter.

Dan bener kan?
Selangkah keluar studio cinema, saya galau.

Reza nya cerdas banget bisa sukses (menurut saya) jadi Habibie,
Bunga juga berperan apik dan menawan sebagai Ainun (walaupun mukanya Bunga terlalu modern buat maen film dengan setting jaman dulu) hehe.
Jerman dan Indonesia yang romantis, serta perpaduan Teknik dan Kedokteran yang bisa dibilang pas (saya yakin anak teknik abis nonton ini jadi makin pede deketin anak kedokteran, *apa siiiih)

Dan yang penting, esensi dari kisahnya itu. Yang. Bikin. Saya. Galau.
Bukan cuma ngomongin cinta yang just i love you and i love you too.
Tapi, juga perjuangan, keyakinan, pengertian, pengorbanan, komitmen, kesetiaan dan pengabdian.
Yang tidak berakhir oleh sesuatu yang tidak pantas mengakhiri, sekalipun kematian.

Habibie dan Ainun adalah pasangan yang begitu serasi, selaras dan seimbang.
Keduanya lengkap dan saling melengkapi.
Keduanya memberikan pelajaran tentang bagaimana Tuhan membuktikan bahwa manusia diciptakan untuk manusia yang lainnya, dan yang satu memang pantas diciptakan untuk yang lainnya.

Yang baik akan mendapatkan yang baik.
Begitu juga yang belum baik, atau yang tidak baik.

Lalu, golongan pantas manakah saya?
Itu yang bikin galau.

Public Transport Happiness

Ada kalanya berpergian naik transportasi umum itu menyenangkan.
Ada kalanya berpergian sendirian itu menyenangkan.

Hingga detik ini, saya bersyukur pernah hidup jauh dari orang tua, karena ternyata saat itulah kita diberi kesempatan untuk "benar-benar melek dan bernafas".

Dari lahir sampai menginjak bangku SMA, kebiasaan untuk kemana-mana ditemani mama, diantar-jemput papa, mengurus ini-itu dibantu orangtua, hidup jadi terlalu mudah dan...jadi ga asik setelah dipikir-pikir.

Saya jadi ga tau jalan, saya jadi ga gampang mengingat jalan, alhasil masih suka nyasar ditengah kota, nyengir sambil bilang "dimana nih gue?" di kota dimana elo dilahirkan dan dibesarkan.
Sampai kemana-mana harus sendiri, ngurus ini itu sendiri, nentuin makan sendiri, awalnya mungkin ngeri, tapi jadi asik.
And damn, why i miss it so much?

Saya masih ingat pertama kali perjalanan udara CGK-PLM-CGK-MES-CGK seorang diri.
Saya masih ingat pertama kali perjalanan darat Jkt-Plmb-Jkt seorang diri.
Saya masih ingat pertama kali perjalanan Depok-Bandung malam hari seorang diri, Depok-Karawang malam hari seorang diri.

Saya masih ingat pertama kali perjalanan kereta malam hari Bandarlampung - Palembang seorang diri.
Pertama kali naik KRL sendirian, naik busway sendirian, naik bajaj sendirian, naik taksi sendirian, naik patas sendirian.
I was such a girl who just going out from her bubbles world.

Gimana kalau pernah ngerasain hidup di luar negeri ya? Macam New York, London, Amsterdam, Los Angeles, Seoul? Wuhuuu serunya ga ketulungan kali ya.
Saya ingat, sebagian diikuti rasa takut, sebagian lagi dilalui dengan hati yang senang.

Biasanya naik angkot dengan rute lemabang-kalidoni dan sekitarnya, 
jadi seneng banget karena pernah hidup dengan slogan "tiada hari tanpa angkot" atau "angkot'ers", walaupun naik transportasi umum kadang-kadang sebenarnya tak sebahagia yang dibayangkan. 

Tapi ketika kembali ke rutinitas dimana elo dengan mudahnya duduk diatas mesin dengan kendali yang elo pegang sendiri, yang siap membawa elo kemanapun lo mau, maka saat itulah naik transportasi umum bisa jadi membahagiakan.

Just like now.

Tulisan ini disponsori pengalaman saya naik Transmusi  (busway nya kota Palembang, orang gaul sini menyebutnya "TM"), untuk ketiga kalinya, dan untuk pertama kalinya sendirian.

Pertama kali naik TM rame2 rombongan temen-temen yang notabene, saya adalah satu-satunya orang Palembang diantara mereka.
Pengalaman pertama plus bawa rombongan turis lokal mendadak, saya ga ngerti rutenya, tapi berhubung secara operasional dan teknikal sama seperti TransJakarta dan TransJogja, jadi ga keliatan udiknya. Hehe
.
Yang berbeda adalah Transjak dan Transjog beli tiketnya di shelter, sedangkan TM beli tiketnya di dalem busnya, bahkan sekarang ada SmartCard yang bisa diisi ulang, setahu saya KRL jabodetabek juga punya beginian, kalo transjak kurang tau deh. Hehe.

Momen naik TM pertama kalinya sendirian ini tercipta karena motor yang biasa saya balapin *halah* lagi ga bisa dibawa.

Dari Jalan Merdeka, saya mau pulang. 
Karena saya males nanya, jadi muncullah naluri kesotoyan saya, saya pikir kalaupun nyasar, masih aman lah karena di palembang ini, hahaa.

Hasil kesotoyan pertama, ternyata saya nunggu di halte yang salah.
Hasil kesotoyan kedua, harusnya transit, tapi dengan santainya saya nyelonong ngikutin rute koridor yang salah. Untung sadarnya cepet, haha.
Lucu, malu-maluin, tapi seru.
Keliatan kan siapa yang ga gaul di kota nya sendiri, hehe.

Senang naik TM, senang kena macet, senang ngeliat jalan dari atas TM, senang berdiri lama-lama, senang dengerin hebohnya orang palembang kalo lagi ngobrol, akhirnya besoknya memutuskan mau naik TM lagi (semoga ga dianggap sebagai suatu kesenangan yang aneh).

Sebenarnya naik transjak dan krl juga pernah sebahagia ini, asaaaaal.... kondisinya ga terlalu amat sangat overload sekali sampe ga bisa nafas.

Saking udiknya, saya moto-motoin jalan selama ada di dalem TM, moto-motoin sesuatu yang bisa dijadikan inspirasi. Senyum ke penumpang yang baru naik, dan ngajak ngobrol abang-abang kondekturnya.

Itulah salah satu yang saya suka kalo lagi pergi sendirian, more being my self, ga perlu jaim, ga perlu ngerasa bikin malu orang yang lagi pergi sama kita. What you wanna do, do what you want.

Pemandangan bagus ga cuma bisa kita dapetin dari jalan-jalan di desa, kiri-kanan sawah, depan belakang gunung, atas bawah sungai atau pantai, 

"pemandangan indah" bisa juga kita nikmati di jalan-jalan ramai di kota, jika kita bisa tidak melulu memandang keindahan dari satu sisi saja.
Yang ga bisa kita nikmatin apabila nyetir sendiri karena harus full konsentrasi.
Yang juga ga bisa kita nikmatin apabila pergi dengan orang lain karena biasanya sepanjang jalan dihabiskan dengan beautychat.

Dibalik hujatan terhadap transportasi umum, bete karena padat, panas, lelet, riweh, dan keluhan-keluhan lainnya, kalau masih dinikmatin dan disyukurin, mudah-mudahan tetap jadi kebahagiaan tersendiri, bahagia yang sederhana pastinya.

Salah satu hasil jepretan dari atas TransMusi, hehe